Mengenal Perahu Tercepat Sedunia: Sandeq!

*** Sandeq adalah Mandar, karena sandeq lahir dari suku Mandar. Sebelumnya, perahu mereka bernama Pakur, yakni jenis perahu bercadik masih kasar bentuknya dan lebih lebar. Pakur kemudian berevolusi, menjadi sandeq.

Saqbe Mandar

Mempertanyakan Defenisi “Saqbe Mandar” (01): Sutra Palsu dan Sutra Abal-abal

Saeyyang Pattuqduq Mandar

Penyelenggaraan tradisi saeyyang pattuqduq bagi orang Mandar lebih merupakan apresiasi positif masyarakat dalam hal ini orang tua anak yang telah khatam bacaan Qurannya.

Fotografer Mandar

Setahu saya, masyarakat umum terdidik (baca: yang pernah menempuh pendidikan sampai universitas) Tinambung yang memiliki minat terhadap fotografi (bukan sebagai pekerjaan, tapi sebagai hobby) era 90-an hanya ada dua, yaitu Asmadi Alimuddin dan Syariat Tadjuddin

Baharuddin Lopa

Baharuddin Lopa Sang Pendekar Hukum Dari Tanah Mandar

Festival Sungai Mandar 2015

"Dengan Sungai Aku Mencintaimu"

Suku Mandar Dalam Wikipedia

"Suku Mandar adalah kelompok etnik di Nusantara, tersebar di seluruh pulau Sulawesi , yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan,Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara, juga tersebar di beberapa provinsi di luar sulawesi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Malaysia."

Abrasi Pantai "Assapambusuangan" di Desa Sabang Subik

"Kontroversi Penanggulangan Abrasi Pantai "Assapambusuangan" di Desa Sabang Subik."

Selasa, 24 Februari 2015

Fotografer Mandar Dewasa Ini (1)

Setahu saya, masyarakat umum terdidik (baca: yang pernah menempuh pendidikan sampai universitas) Tinambung yang memiliki minat terhadap fotografi (bukan sebagai pekerjaan, tapi sebagai hobby) era 90-an hanya ada dua, yaitu Asmadi Alimuddin dan Syariat Tadjuddin. Parameternya, mereka punya kamera SLR dan biasa melakukan hunting(pemotretan) bukan karena pesanan (untuk membedakan dengan fotografer yang hanya memotret acara-acara pernikahan atau acara lain).
Asmadi Alimuddin atau Asmadi Taro orang Tinambung yang kuliah di ISI Yogyakarta. Jurusannya teater, tapi ada minat ke fotografi. Beberapa kali hunting foto di beberapa tempat di Mandar.
Adapun Syariat Tadjuddin, (dulu) seorang wartawan (sekarang PNS di Pemkab Majene). Pernah menuntut ilmu hukum di Universitas Andalas Padang dan menjadi wartawan di Kalimantan Timur dan Makassar. Jadi bisa diartikan, basis Syariat adalah dokumentasi jurnalis, beda dengan Asmadi yang tidak pernah bekerja di media, misalnya sebagai fotografer lepas (stringer).
Belakangan, setelah bekerja sebagai PNS di Palu (untuk kemudian di Mamuju) dan mempunyai kesibukan lain, Asmadi sepertinya tidak melanjutkan hoby fotografinya. Beda dengan Syariat, masih berlanjut sampai sekarang. Dengan istilah lain, Syariat, yang juga mantan ketua Teater Flamboyan, lanjut ke fotografi digital, sedang Asmadi tidak. Pada tahun 1997 Syariat menggunakan SLR Yashica,  tahun 2000 SLR Canon, dan DSLR Nikon D5000 Februari 2010.
Pengguna DSLR lainnya di Tinambung adalah Studio Rusman (usaha almarhum H. Safar yang sekarang dikelola anak-anaknya), Wahyudi (tinggal di Tangnga-tangnga, sekarang menuntut ilmu fotogarfi di Yogyakarta) dan DJ Abi Qiffary (sekarang menuntut ilmu di Makassar). Ketiganya menggunakan EOS 1000D (Studio Rusman juga menggunakan Nikon D3000).
Yudhi membeli kameranya pada Mei 2009 dengan harga Rp 5,8 juta. Nanti pada tahun 2010 bertambah pengguna DSLR di Tinambung. Selain M. Syariat Tadjuddin yang saya tuliskan sebelumnya, juga Abu Madyan. Mereka menggunakan Nikon D5000. Menurut Abu Madyan, dia membeli kameranya pada Mei 2010 dengan harga Rp 6,3 juta.
Sedang fotografer Tinambung yang masih menggunakan SLR analog dalam arti sepenuhnya (tak memiliki digital) antara lain adalah Sabri, Husain (putra Ga’de sekarang tinggal di Pambusuang), dan beberapa fotografer yang “ber-asosiasi” ke beberapa “orang bencong” yang menyediakan jasa penyewaan perlengkapan pesta pernikahan dan make up-nya.
Sabri
Sabri tinggal di Tinggas-tinggas, antara mesjid Tinggas-tinggas dan kantor PLN Tinambung. Dulunya berguru atau bekerja di Studio Pammase milik Ismail (Suma’ila). Sejak tahun 1998, telah memiliki kamera sendiri, yakni Nikon FM10.
Walau Sabri dikenal sebagai fotografer pesta pernikahan, sebagaimana kebanyakan fotografer “profesional” di Tinambung, dia sedikit banyak berbeda dengan kolega-nya. Sabri memiliki sedikit rasa hobi atau kecintaan terhadap fotografi. Menggunakan istilah “sedikit” untuk membedakan tingkat kecintaan terhadap dunia fotografi yang dimiliki oleh H. Djawahir, H. Murad, dan Muluk Yasil.
Artinya, karya-karya Sabri sebagian besar masih berdasar pada pesanan. Untuk mengambil gambar dalam rangka kepuasan dan sebagai dokumentasi sejarah, belum.
 Saat ini Sabri menggunakan dua jenis kamera, selain Nikon, juga Braun. Menurutnya, lensa Nikkor (milik Nikon) bisa dipasang ke kamera Braun.
Dia mempunyai cita-cita bisa belajar fotografi secara akademis. “Kalau ada kursus fotografi di Makassar yang diselanggarakan Darwis Triadi, saya mau ikut”, ungkapnya.
Menariknya, Sabri masih menyimpan foto (tapi sudah repro) saat dia bayi yang tukang fotonya Toke Ballang. Meski tidak tahu banyak tentang Toke Ballang, Sabri tahu bahwa fotografer yang dulu terkenal adalah Toke Ballang.
Desa-desa di sekitar Tinambung juga ada beberapa fotografer bangkotan. Yang masih berkarya sampai saat ini adalah Karim (Desa Pambusuang) dan Kandallang (Desa Paropo). Saya sudah pernah melihat aksi Karim dan telah mewawancarainya, sedang Kandallang belum.


Karim, tukang becak merangkap fotografer di Pambusuang
Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin
Yang menarik di Karim, selain sebagai fotografer, dia juga merangkap sebagai nelayan (dulu) dan tukang becak (sekarang, sampai saat ini). Bagi saya, ini sesuatu yang unik. Jarang ada seorang fotografer yang kerjanya rangkap sebagai tukang becak. Tanpa bermaksud merendahkan pekerjaan tukang becak, kerja fotografer identik dengan pekerjaan elit, sedang tukang becak pekerjaan kasar.
Umur Karim saat ini 50 tahun, lahir di Dusun Ba’balembang, Desa Pambusuang. Hanya sekolah sampai kelas 3 SD. Tidak tamat. Alasannya, sering diganggu anak-anak tentara 710 dan kerja di laut bisa dapat uang banyak.
Setelah beberapa tahun melaut, Karim diajak sebagai pegawai di studio milik Tanwi, di Pasar Pambusuang. Tanwi termasuk fotografer awal di Mandar, khususnya di Pambusuang. Sebelum tinggal di Pambusuang, Tanwi tinggal di Ujung Lero, Pinrang (tak jauh dari kota Pare-pare). Kemungkinan besar, Tanwi pernah atau mendapat pengaruh dari orang Cina yang bekerja sebagai tukang foto di Pare-pare.
Menurut Karim, bosnya menggunakan kamera merk Sanghai “yang membungkus saat menggunakannya”. Dia juga bisa bekerja di kamar gelap. Saat Tanwi pindah ke Kotabaru (P. Laut, Kalimantan Selatan) yang membawa serta kamera kunonya, Karim bekerja sendiri. Nama studionya “Mekar”. Dia menggunakan Nikon. Merknya sudah aus tanda kameranya sudah tua.
Dulu, tahun 70-80an, Karim bekerjasama dengan studio milik H. Murad dan paman saya, Muluk Yasil. Baik untuk beli negatif, servis, maupun cuci cetak.
Menurut Karim, saat ini permintaan memotret sangat kurang. “Saya ini hanya dapat sisa-sisa pesanan. Kalau yang lain sudah penuh, baru saya dapat”, menurutnya. Sebab itulah, sehingga dia merangkap sebagai tukang becak. Begitu cintanya pada kegiatan fotografi, becaknya diberi nama “Konica 1” dan “Konica 2”.
Sekarang Karim tinggal sendiri. Isterinya telah meninggal dunia, tak ada anak. Rumahnya sederhana tapi menarik. Di dinding depan, yang dicat warna khas Argentina, dipasangi poster-poster peserta Piala Dunia 2010. Di atas pintu masuk, terdapat plank “Poto Studi Mekar M. Karim Pbs”.
Suasana dalam rumah masih ada jejak-jejak bahwa ruangan rumahnya juga adalah studio. Ada beberapa lukisan yang biasa dijadikan latarbelakang saat ada yang dipotret dan lemari kaca, tempat yang dulunya diletakkan rol, bingkai yang dijual. Ada juga foto dirinya bersama artis-artis lokal Mandar.

Karim bersiap beraksi
Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin
Karim bekerja sama dengan Husain, putra Pammarica (Ga’de) yang tinggal tak jauh dari rumah Karim. Husain umurnya masih muda, hampir seumuran dengan saya, awal kepala tiga (30 tahun). Kameranya ada dua, yaitu Nikon dan Zenit 122, tapi Zenit rusak. Beda dengan Zenit analog saya (Zenit TTL), 122 terbuat dari plastik, jadi ringan.
Bila ada order Husain yang bersamaan dalam satu hari, dia serahkan ke Karim sebagian. Demikian juga untuk urusan beli rol dan cetak hasil. Bila Karim butuh rol film, dia ambil dari Husain, nanti bayarnya; kalau ada yang mau dicetak, negatifnya diserahkan ke Husain. Husain yang urus dengan studio percetakan. (Bersambung)

*Sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com/2011/10/fotografer-tinambung-dewasa-ini-1.html?view=timeslide

Mempertanyakan Defenisi “Saqbe Mandar” (01): Sutra Palsu dan Sutra Abal-abal

Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin
Dalam bahasa Mandar, kain sutra kadang disebut “saqbe”, kadang “lipaq saqbe”. Mungkin karena kata kain dalam Bahasa Mandar tidak ada kata khususnya. Paling perubahan, dari kain menjadi “kaeng”. Makanya jarang kita dengar “kaeng saqbe”.
Di kalangan komunitas pengerajin kain “sutra” (kata sutra di sini saya beri tanda kutip), ada beberapa istilah untuk menyebut jenis atau kualitas kain “sutra” yang dihasilkan penenun (“panetteq”) Mandar. Ada dibilang “saqbe asli”, ada “saqbe india”, “saqbe cina”, dan lain-lain. Jika berdasar harga, setidaknya ada dua, yang murahan (di bawah Rp 150.000) dan yang mahal (rata-rata Rp 300.000).

Nah, yang laku di pasaran adalah yang murah. Sangat laku! Sebab murah, maka terjangkau. Sebab rata-rata masyarakat kita penghasilannya tidak seberapa dan cari yang murah, tentu yang dibeli yang murah. Kadang, biar banyak uangnya juga cari yang murah.
Juga, kalau membutuhkan “sutra” dalam jumlah banyak, misal akan dibuat baju seragam atau keperluan lain yang memakai kain “sutra”, maka yang dibeli tentu yang murah. Pertanyaannya, kenapa bisa murah? Apakah pada kain yang murah itu patut disematkan kata “saqbe” atau “saqbe mandar”?
Di kalangan pedagang sarung tenun, setidaknya ada tiga kualitas atau jenis benang, yaitu yang nomor satu, nomor dua, dan nomor tiga. Nomor satu adalah benang sutra alami yang diimpor dari Hongkong atau Cina, nomor dua sutra yang dihasilkan lokal (misalnya Enrekang), dan yang nomor tiga adalah benang impor yang juga datang dari Cina.
Perbedaan mendasar antara satu dan dua dengan tiga adalah antara alami dengan tidak alami. Disinilah persoalannya!
Benang sutra alami (“saqbe”) dihasilkan dari kepompong ulat sutra. Kepompongnya sebesar ibu jari, hasil budidaya oleh peternak. Makanan utamanya adalah daun murbei. Waktu saya masih sekolah di MTsN, jika libur, saya biasa ke pedalaman Allu, yaitu Pao-pao atau Ratte Matama (sekarang tidak pedalaman lagi sebab mobil bisa ke dalam) ikut paman membudidayakan ulat murbei.
Pada usia tertentu, kepompong itu diolah, diambil benangnya. Inilah benang “saqbe” asli, sebab betul-betul alami. Benang itu ada kualitasnya. Dipengaruhi oleh kualitas ulat, warna, dan kehalusan benang atau serat yang dihasilkan.
Sepertinya tak ada lagi budidaya ulat sutra di Mandar. Paling dekat itu Enrekang. Jika pun ada yang datang dari Enrekang, itu kualitas nomor dua. Kabarnya, kualitas nomor satu diekspor ke India. Ironisnya, kualitas benang nomor satu diimpor, khususnya dari Hong Kong.

Harga per kilogram sutra asli nomor satu itu 900-san ribu rupiah, sedang kualitas nomor dua 600-san ribu rupiah. Rata-rata dari satu kilogram sutra asli bisa dihasilkan 3 – 4 sarung sutra. Tergantung ukuran sarung yang diinginkan.
Bandingkan dengan benang “saqbe” palsu alias sintetis yang berbahan polyster (bahannya dari minyak bumi, satu keluarga dengan plastik), per paketnya (1 kg benang “nekel” + 1 kg polyster) hanya Rp 150.000 yang bisa menghasilkan jumlah sarung sedikit lebih banyak.
Harap dicatat, benang “saqbe” alami di atas belum diolah. Pengolahannya juga setingkat lebih rumit dibanding dengan sutra alami: benang yang dibeli (masih berbentuk pintalan) yang warnanya agak krem dicuci terlebih dahulu. Proses pencuciannya butuh waktu tiga hari. Benang sutra yang telah dicuci harga per kiloannya Rp 750.000 (sudah masuk ongkos kerja). Nanti setelah dicuci baru memasuki tahapan “maccinggaq” atau pewarnaan. Benang yang diwarnai tergantung jenis atau motif (“sureq”) sarung yang akan dibuat.
Adapun sutra palsu, tidak perlu menjalani proses pencucian. Bisa langsung diwarnai untuk kemudian ditenun. Penampakannya putih bersih, mengkilat.
Tahapan setelah pencucian, yaitu dari “manggalenrong” atau “mappamaling” (melilitkan benang ke kaleng), “massumauq” (menyusun motif), hingga “manetteq” (menenun) antara sutra palsu dengan yang asli bisa dikatakan tidak ada perbedaan. Prosesnya sama-sama merepotkan, membutuhkan ketelatenan. Rata-rata 5 – 7 hari untuk selembar kain yang jika dijahit akan menjadi sarung (“lipaq”).

Sebagaimana yang disampaikan di awal, harga selembar kain sutra Mandar hasil tenunan wanita-wanita Mandar itu ada dua, yang murah dan yang mahal. Sekilas, perbedaan harga disebabkan oleh perbedaan kualitas atau jenis benang yang digunakan. Yaitu asli dengan yang palsu. Sampai di sini mungkin tidak ada persoalan. Namun, jika memasukkan proses pembuatan, ternyata ada masalah besar yang tidak kita sadari.
Jika mengerjakan benang asli, para pengerajin kain sutra di Mandar bisa dapat untung sampai Rp 100 ribu. Jika dirata-ratakan, pendapatan per hari Rp 20.000.
Tapi kalau mereka mengerjakan kain sutra yang berbahan palsu, berapa keuntungan yang mereka dapatkan? Berapa “margin” atau selisih antara ongkos pembelian benang dengan keuntungan jual sarung? Jika mereka mendapat Rp 20.000 – Rp 50.000, kalau itu dibagi 5 (hari kerja), maka gaji mereka per hari Rp 4.000 atau Rp 10.000 saja? Dan tak menutup kemungkinan, mereka seolah-olah mendapat keuntungan padahal pada dasarnya tidak alias keuntungan semu. Sebab proses kerja mereka tak terbayar.

Menurut pendapat saya, orang kaya atau orang mampu lebih mengutamakan membeli kain “sutra” yang murah bisa menjadi pelecehan yang tak disadari. Coba bayangkan, untuk selembar kain yang dikerjakan dengan keterampilan dan ketelatenan luar biasa hanya dihargai dengan harga Rp 5.000 Masalah lain adalah, ternyata apa yang kita anggap selama ini adalah sutra (“saqbe”) ternyata bukan “saqbe”, melainkan benang buatan atau sintetis yang bahannya sama dengan pakaian atau celana yang kita beli di toko (kecuali yang berbahan katun atau kapas). Yang berbeda hanyalah di mana kain itu ditenun (antara tenunan pabrik dengan tenunan “panetteq” Mandar) dan motifnya (umumnya Mandar kotak-kotak). Dengan kata lain ada banyak yang kecele. Dianggapnya sutra asli padahal sutra palsu alias sintetis.
Lalu, yang manakah disebut “saqbe mandar” yang kita bangga-banggakan selama ini?
Bersambung....

*sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com/2014/10/mempertanyakan-defenisi-saqbe-mandar-01.html


Mengenal Perahu Tercepat Sedunia: Sandeq!



AsiaatSea.com
***
Sandeq adalah Mandar, karena sandeq lahir dari suku Mandar. Sebelumnya, perahu mereka bernama Pakur, yakni jenis perahu bercadik masih kasar bentuknya dan lebih lebar. Pakur kemudian berevolusi, menjadi sandeq. Pertimbangannya untuk kecepatan. Itulah sebabnya, bentuk ideal Sandeq adalah seperti jantung pisang jika dilihat dari muka. Dan soal kecepatan, konon sandeq adalah perahu tercepat sedunia.

Perahu sandeq adalah perahu tradisional suku Mandar. Suku Mandar ini mendiami pulau Sulawesi bagian barat. Suku Mandar dikenal sebagai suku yang hidup dominan di wilayah maritim atau laut. Tak heran, banyak kalangan menilai bahwa mandar adalah pelaut ulung yang melintasi luasnya lautan dengan keberaniannya menggunakan perahu sandeq.

Penamaan sandeq berasal dari bahasa mandar yang sama “sande’” yang berarti runcing, sebagaimana bentuk perahu tersebut yang memang nampak runcing di bagian haluan dan buritannya. Haluan dan buritan ini masing-masing disebut sebagai paccong, paccong uluang untuk haluan dan paccong palaming untuk buritan.

Menurut penelusuran pengamat budaya Mandar, Dahri Dahlan, perahu sandeq lahir pada tahun 1930-an di Pambusuang, salah satu desa pelaut yang sekarang berada dalam kecamatan Balanipa. Sebelum tiba pada generasi perahu sandeq yang sekarang dapat kita lihat di sepanjang pantai di Mandar, ada beberapa jenis perahu yang terus mengalami perubahan bentuk hingga tiba pada bentuk mutakhir sandeq.

Sandeq yang kita kenal kini adalah perubahan dari bentuk dan jenis pakur. Bentuknya lebih besar dan agak kasar dibandingkan dengan generasi sandeq yang lebih ramping. Layar yang masih berbentuk segi empat dengan menggunakan dua bon dan satu layar. Dahulu, selain digunakan untuk mencari ikan, pakur juga digunakan sebagai alat transportasi laut utama untuk mengekspor bahan pangan dan lainnya, misalnya gabah, kapur, madu, dan sarung sutra ke berbagai tempat di seluruh nusantara.

Tidak hanya sampai di situ, perahu jenis pakur juga merupakan sebuah bentuk perubahan dari perahu olang mesa. Olang mesa hampir sama bentuknya dengan pakur namun memiliki sedikit perbedaan pada bagian layar. Jadi jelaslah bahwa sande’ adalah sebuah perahu dengan hasil rancangan manusia mandar dengan pikiran yang sistematis sesuai dengan tuntutan zaman. Berikutnya kita akan membahas perahu sande’ dari ciri-ciri atau bentuknya.

Ciri-ciri perahu sandeq

Lebih jauh Dahri mengungkap, ciri-ciri perahu sande’ adalah (1) bercadik: sejenis sayap yang terdapat di bagian badan perahu sebagai penyeimbang, jumlahnya ada dua, satu di bagian haluan dan satu di bagian tengah perahu. Penyeimbang atau cadik ini disebut sebagai baratang. Untuk bagian haluan disebut baratang uluang dan untuk bagian tengahnya disebut baratang palaming. Pada masing-masing ijung cadik ini dipasang bambu sebagai penyeimbang. Bambu inii disebut sebagai palatto. Untuk menghubungkan antara baratang dan palatto ini dibutuhkan sebuah kayu yang berbentuk siku lagi atau berbentuk huruf L terbalik, dan kayu ini disebut sebagai tari’, jumlahnya ada 4 untuk masing-masing ujung baratang atau katir.

Karena sandeq adalah perahu tradisional yang hanya mengandalkan angin sebagai tenaga pelayaran utamanya (sekarang ada beberapa sande’ yang dipasangi perahu motor) maka tentunya perahu ini membutuhkan layar. (2) layar perahu sandeq berbentuk segi tiga, tiangnya disebut pallayarang dan untuk bon atau andang-andangnya disebut sebagaii peloang, berasal dari kata pelo’ yang berarti gulungan, karena saat selesai berlayar, layar perahu sandeq digulung pada peloangnya.

Ciri ke (3) perahu sande’ dicat berwarna putih. Ada beberapa kalangan yang menilai bahwa pilosofi dari warna putih sande’ ini adalah menandakan kesucian, namun menurut salah seorang nelayan pengguna perahu sande’ yang pernah ditemui, alasan mereka menggunakan warna putih yang seragam bagi semua perahu sandeq adalah agar terlihat bersih dan rapi.

Tipe atau jenis perahu sande’ berdasarkan jenis nelayan di Mandar

1) Pangoli
Terdiri atas 1-2 awak perahu Sandeq yang berukuran antara 3-4 m. kegiatan melautnya dimulai pada waktu subuh (terjadinya angin laut) dan diakhiri saat siang sampai sore hari (saat terjadinya angin darat). Alat tangkapnya hanya berupa tasi (tali monofilamen) dan kail beserta umpan. 

2) Parroppong
Terdiri atas 2-3, bahkan 4 awak perahu, ukuran perahunya lebih besar dari ukuran Pangoli, lama waktu melaut 3-7 hari. Tempat mereka menagkap ikan lebih jauh dari Pangoli dan berpusat di Roppong (semacam rakit yang ditanam di laut).

3) Pallarung
Lama mereka melaut bisa mencapai 30 hari, awak perahunya 4-6 orang, jenis ikan yang ditangkap lebih spesifik, hanya jenis ikan dasar laut yang biasa mereka sebut bau batu. Dulu, mereka hanya mengandalkan sistem fementasi garam dalam mengawetkan ikan hasil tangkapan, hingga yang mereka jual adalah ikan kering/asin (bau maraqe/masing). Namun sejalan dengan perkembangan teknologi saat ini mereka sudah mengawatkan ikan hasil tangkapan dengan cara dibekukan dengan es dalam peti khusus/termos, hasilnyapun lebih menjanjikan; ikan segar (bau baru).

4) Potangga
Perbedaan antara Potangga dan Pallarung hanya terletak pada jenis dan cara penangkapan hasil lautnya. Tangkapan utama mereka adalah ikan terbang (CypsilurusAltipennis, Lat.) atau istilah setempat Tuing tuing, dan yang paling diutamakan adalah telurnya. Alat penangkapan ikan dan telurnya mereka sebut; buaro, epe epeq, gandrang, dsb. Biasanya terbuat dari bambu dan daun kelapa. Mereka hanya melakukan kegiatan motangga saat terjadinya musim angin timur yang terjadi antara bulan Mei sampai akhir bulan Agustus sepanjang tahun.

Beberapa tahun terakhir ini perahu Sandeq juga dilombakan kecepatannya. Ajang yang paling bergengsi yang diadakan tiap tahunnya adalah ‘Sandeq Race’. Tiap bulan Agustus, berpuluh-puluh perahu Sandeq mengadu kecepatan untuk memperebutkan gengsi dan tentunya uang. Perlombaan dimulai dari kabupaten Mamuju dan berakhir di Makassar. Lomba tersebut diadakan untuk memperingati hari jadi bangsa Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus.

Ajang yang sudah menjadi rutinitas tahunan oleh dua provinsi yang bertetangga, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan ini dianggap mampu mempertahankan pelestarian perahu sande’ yang perlahan tergeser dengan keberadaan perahu  motor modern yang semakin banyak digunakan. Para nelayan memilih beralih untuk menggunakan perahu motor untuk melaut dengan alasan lebih cepat dan evisien, sebab perahu sande’ hanya mengandalkan kekuatan angin yang terkadang tidak seperti dengan harapan nelayan. Jika angin terlalu kencang, mereka enggan untuk melaut dan jika tidak ada angin, jelas perahu sande’ tidak bisa dilayarkan.

*sumber : http://travel.kompas.com/read/2014/09/26/002847627/Mengenal.Perahu.Tercepat.Sedunia.Sandeq.

Massamaya di Makam I Laso Mosso




Regalia atau benda pusaka yang tersimpan di Mosso selain gong Taqbilohe adalah dua gendang. Melihat bentuk dan ukuran, gendang jenis demikian biasa dipakai jika ada acara-acara “maccaq” atau pencak silat. Gendangnya berbeda bila dipakai untuk mengiringi penari, yang ukurannya lebih besar.
Gendang sebagai benda pusaka dulu juga ditemukan di Kerajaan Pamboang. Ada foto tua yang tersimpan di laman Museum KITLV Belanda yang keterangan fotonya tertulis, “Voorwerpen voor de viering van de geboorte van het eerste kind van de maharadja van Pambaoeang, districtshoofd van Mandar, te Madjene,” kira-kira berarti “Benda untuk perayaan kelahiran anak pertama dari Raja Pamboang, di Mandar Majene.”
Foto yang dikutip Joekes, L V pada tahun 1932 memperlihatkan benda pusaka kerajaan tersebut yaitu satu gong yang terukir, dua gendang, tombak, panji dan beberapa alat musik kuno. Apakah benda-benda tersebut masih disimpan oleh pewaris Kerajaan Pamboang?
Kerajaan Bone juga memiliki benda-benda pusaka gendang. Gendang yang mereka percayai sebagai gendang “manurung” yang konon turun dari langit oleh Arung Mpone pertama Panre Bessi e Manurung ri Matajang.
Bila hari pertama ritual “Mappaoli Banua” di Mosso benda pusaka gong dan gendang hanya diperlihatkan, pada hari kedua, benda-benda tersebut dimainkan. Gong ditabuh mengiringi tabuhan dua gendang pusaka. Di depan panggung aksi “maccaq” dilangsungkan.
Usai pencak silat di lokasi ritual, diadakan ziarah ke makam moyang masyarakat Mosso. Mereka menyebutnya I Laso Mosso. Masyarakat Mosso mempercayai bahwa I Laso Mosso adalah moyang Todilaling, raja pertama Kerajaan Balanipa.
Menuju Buttu Tondoq, yang berjarak kurang dua kilometer dari pusat kampung Mosso, butuh fisik kuat. Menanjak terus, apalagi ketika akan naik ke atas bukit yang kemiringannya tajam dan medan yang berbahaya. Setidaknya ada dua orang yang hampir pingsan saat menuju bukit.


Pemandangan tersendiri  melihat keramaian di atas bukit kecil, yang dikelilingi pemandangan indah. Setiap keluarga membawa makanan, ada buras, ada ketupat, ayam, telur, sokkol, dan lain-lain. Laksana lebaran di atas bukit. Atau, seperi acara rekreasi.
Yang menarik dari kegiatan ziarah adalah itu dilakukan oleh mayoritas penduduk kampung Mosso. Baik yang tinggal di Mosso maupun yang telah tinggal di daerah lain. Ada dari Makassar, ada dari Palu. Bukan puluhan peziarah tapi ratusan. Mulai dari anak balita hingga tua renta. Dan yang paling menarik adalah ziarah kolosal tersebut berlangsung di atas puncak bukit Buttu Tondoq. Dari sekian makam raja-raja atau “tosalamaq” di kerajaan-kerajaan Pitu Baqbana Binanga yang pernah saya datangi, sepertinya lokasi makam I Laso Mosso-lah paling tinggi letaknya dari segi geografis, hampir 500 meter dari permukaan laut.
Begitu tingginya, di atas puncak Buttu Tondoq kita bisa melihat ‘ke bawah’ makam Todilaling. Konon, ketika akan wafat, I Laso Mosso minta dimakamkan di bukit yang mana di situ dia bisa ‘melihat’ keturunannya. Memang pas. Di atas Buttu Tondoq makam raja, seperti I Manyambungi (Todilaling), Tomepayung (maraqdia kedua Balanipa), dan Maraqdia Pallis (maraqdia pertama masuk Islam) nampak dengan jelas.
Selain situs makam I Laso Mosso, yang menggunakan nisan baru (nampak dari warna batu dan ukiran bergaya Islam), juga ada batu besar yang di situ tampak lafaz tulisan Arab. Letaknya beberapa puluh meter dari titik makam. Ada lafaz “La ilaha illallah” di batu. Sebab ada tulisan itu, pemali berdiri atas batu. Setidaknya ada dua batu (berdiameter lebih satu meter) yang ada tulisan aksara Arab.

Apa yang mereka lakukan adalah ritus “massamaya”, yaitu berziarah ke makam leluhur atau orang yang dianggap keramat. “Massamaya” adalah ziarah yang dilakukan beramai-ramai, dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Berbeda dengan ziarah ketika ada nazar (“mattinjaq”), yang bisa dilakukan kapan saja sejauh nazar sudah terpenuhi. Ziarah ‘biasa’ juga tidak terlalu ramai, beda dengan “massamaya”.
Ritual “massamaya” jamak dilakukan oleh penduduk Mandar, khususnya yang masih memiliki “ikatan khusus” dengan leluhur mereka atau orang yang mereka hormati. Ciri khas “massamaya” adalah membawa makanan ke makam, seperti beberapa jenis pisang, “sokkol”, dan sebagainya.
Selain masyarakat Mosso, kampung lain yang juga biasa “massamaya” adalah Pallis. Lokasinya di makam Maraqdia Pallis, yang juga berada di atas bukit, tapi ketinggiannya sekitar 400 meter dpl.

Saat penduduk Mosso berziarah ke makam I Laso Mosso, di bangunan kayu tempat I Laso Mosso berada dijejer beberapa “kappar” yang diatasnya beragam makanan dan buah. Di dekat nisan I Laso Mosso diletakkan gong Taqbi Lohe, dua gendang keramat, dan benda-benda pusaka lainnya, seperti sarung sutera tua dan sebilah keris kecil.
Setelah semua rapi, diadakan doa bersama yang dipimpin oleh imam mesjid. Usai berdoa, mereka pun makan. Sebab ruang  makam hanya berukuran sekitar 2 x 8 meter, peziarah yang lain menggelar tikar dan makanan mereka di luar. Persis orang rekreasi. Mereka riang gembira, khususnya anak-anak. Mungkin dalam benak mereka, sekarang lagi acara makan-makan (rekreasi).
Usah makan, penduduk berebutan masuk ke dalam makam I Laso Mosso. Ada yang mengambil tanahnya (hal yang sama juga terjadi di makam Tosalamaq Salabose, Majene), ada yang menyiramkan minyak, dan prosesi-prosesi lain ala peziarah. Juga ditampilkan sedikit gerakan pencak silat di sekitar makam.

Usai ritual di makam I Laso Mosso dan makan-makan, penduduk pun turun, kembali ke kampung. Dalam diri mereka ada “sumangeq” atau semangat baru menjalani hidup.

*sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com/2015/01/massamaya-di-makam-i-laso-mosso.html

Mengapa Pakai Q, Bukan ‘?

Susah membaca judul? Maksudnya, Mengapa pakai huruf “q”, bukan koma atas?
Mengapa beruq-beruq, bukan beru’-beru’ dan mengapa sandeq, bukan sande’?
Kalimat pertama di atas paling sering diajukan, yang kedua malah jarang. Padahal sama-sama menggunakan “q”, bukan “ ‘ “ (koma atas atau hamzah atau glottal stop atau simbol asotrof).
Kadang saya juga merasa janggal bila membaca kata bahasa Mandar yang menggunakan huruf “q” sebagai pengganti simbol koma atas. Apalagi kalau orang luar yang baca, pasti ganjil kedengaran. Sebab “q” dimaknai sebagai sebuah huruf, bukan sebagai sebuah bunyi yang khas yang disebut “glottal stop” atau hentian glotis. Glotis ialah istilah teknikal untuk jurang antara lipatan vokal yang dirapatkan ketika menghasilkan bunyi ini.
Sebab sering ada yang bertanya (kadang bernada protes), maka dalam tulisan ini saya menjelaskan sedikit tentang alasan penggunaannya.




Dalam Kamus Bahasa Mandar Indonesia yang disusun Abdul Muthalib, semua kata atau entri yang ada nada hentian glotis menggunakan huruf “q” sebagai pengganti simbol hamzah atau koma atas. Sebagaimana yang dituliskan di halaman Petunjuk Pemakaian, “Tata bunyi bahasa Mandar mengenal 24 fonem, yaitu: 17 fonem konsonan /b p d t c k q* j g s h m n n l r/ 2 fonem semi konsonan /w y/, dan 5 fonem vokal /i e a u o/ …”
Huruf “q” di atas diberi tanda * yang dijelaskan kemudian “* bunyi hamzah (“glotal stop”) sebagai fonem yang dapat menduduki posisi tengah dan belakang”.
Apakah Abdul Muthalib (dan ahli-ahli bahasa lain) suka-sukanya menggunakan aturan itu? Tidak. Mereka melakukan musyawarah untuk kemudian disepakati; mereka melakukan Loka Karya Pembakuan Ejaan Latin Bahasa-bahasa Daerah di Sulawesi Selatan pada 25 – 27 Agustus 1975 di Ujungpandang, merupakan tindak lanjut akan hasil Seminar Pembakuan Ejaan Latin Bahasa-bahasa Daerah di Sulawesi Selatan, 28 – 29 Maret 1975 di Aula Benteng Ujungpandang.
Sebab, setahu saya, belum ada seminar yang bertujuan untuk memperbaharui (mengganti kesepakatan), maka (dengan alasan ilmiah) saya berpedoman pada aturan seminar dan loka karya tersebut (menggunakan huruf “q” sebagai pengganti koma atas atau apostrof atau “glotal stop”).
Saya belum tahu persis apa alasan para ahli tersebut lebih memilih menggunakan “q” dibanding koma atas. Hingga kemudian saya membaca tulisan Sirtjo Koolhof atas keluh kesah teman-teman di Penerbit Ininnawa akan dilema penggunaan simbol “glottal stop”. Berikut kutipan tanggapan Sirtjo Koolhof, ahli La Galigo dari Belanda, atas tulisan Tiga Tanda Menguak Takdir Pembacaan Bahasa (Bugis):
Pertama-tama kita harus membedakan bunyi fonem yang ada dalam bahasa Bugis, yaitu glottal stop pada akhir suku kata, dan huruf yang melambangkan salah satu fonem. Pada dasarnya setiap lambang atau huruf bisa digunakan untuk salah satu fonem, asal dapat dibedakan dari fonem yang lain.
Lalu, mengapa dalam edisi La Galigo kami gunakan huruf q untuk melambangkan fonem glottal stop dalam transkripsi bahasa Bugis, dan bukan huruf k atau ‘? Ada alasan teoretis, dan ada yang praktis.
Huruf ‘k’ tidak dipilih karena kalau ada tambahan dengan suffiks (akhiran kata), kadang-kadang ‘muncul’ huruf ‘s’, ‘r’, atau ‘k’. Misalnya: baluq – balureng, balukeng; leppeq – leppesseng; lappaq – lappareng; dst. Karena itu, huruf k kurang cocok untuk melambangkan fonem glottal stop, karena selain ‘k’, ada juga ‘s’ dan ‘r’ yang ‘di bawah’ fonem glottal stop itu.
Sisa pilihan antara apostrof ( ‘ ) dan huruf ( q ). Tanda apostrof dalam tulisan bahasa Bugis dengan huruf Latin juga dipakai sebagai tanda petik. Berarti bisa memunculkan ambiguitas dan keanehan. Seperti: ‘malebbi”, atau ambiguitas ‘Taro a’ ménré’ ri sao kuta pareppa’é’: di mana kutipan berakhir?
Selain menghindari ambiguitas dan keanehan dalam ejaan ada alasan praktis juga untuk memilih huruf ‘q’ sebagai lambang fonem glottal stop. Alasan itu berhubungan dengan zaman komputer: dalam konvensi digital lambang apostrof tidak dihitung sebagai huruf, berarti tidak menjadi bagian dari kata. Misalnya nama Patoto’e dijadikan dua kata: Patoto dan e; sama halnya dengan kata pareppa’e dalam kutipan di atas.
Sisa satu huruf yang paling cocok untuk melambangkan fonem glottal stop dalam bahasa Bugis, yaitu huruf q:
1)    Dalam beberapa bahasa memang digunakan untuk melambangkan glottal stop;
2)    Karena tidak dipakai dalam bahasa Bugis yang ditulis dengan huruf Latin untuk fonem yang lain (tidak ada ambiguitas);
3)    Dapat melambangkan fonem ‘di bawah’ (s, r dan k); dan
4)   Secara praktis dalam file digital q diperlakukan sebagai huruf-huruf yang lain, berarti jadi bagian integral kata-kata.
Apa yang dikemukakan Koolhof sangat masuk akal. Saya tambahkan contoh, bila menuliskan istilah lokal ke dalam sebuah tulisan berbahasa Indonesia, idealnya istilah tersebut dibedakan dengan kata lain (yang berbahasa Indonesia). Ada beberapa teknik, tapi yang disepakati ialah kata atau kalimat tersebut dibuat miring (italic) atau diberi kutipan. Kalau miring tak ada masalah, tapi kalau tanda kutip?
- Bahasa Mandar mencuri adalah maccoroq
- Bahasa Mandar mencuri adalah “maccoro’”
Apa beda dua kalimat di atas? Pada kalimat kedua, “glottal stop”-nya tak terlihat atau tersamar, sebab didekatnya ada tanda kutip.
Juga ada yang berdalih, katanya, kalau pakai “q” akan membuat orang salah baca. Menurut saya ini hanya masalah kebiasaan atau bisa juga ketidakpahaman. Saya katakan demikian, sebab ternyata ada banyak kasus atau contoh di bahasa Indonesia, simbol “glottal stop” itu menggunakan huruf, baik “q” maupun huruf “k”, BUKAN “ ‘ “ (koma atas).
Contoh: ucapan ko’ ditulis koq; tida’ menjadi tidak; so’ ditulis sok, bengko’ ditulis bengkok; bebe’ ditulis bebek, henta’ menjadi hentak, dan lain-lain.
Artinya, sebenarnya kita telah mempraktekkan mengganti koma atas dengan huruf saat menuliskannya. Hanya tidak disadari. Baru tersadar ketika kata tersebut (baca: bahasa daerah) dituliskan.
Tapi tak berarti saya menyalahkan bagi yang bertahan menggunakan simbol koma atas. Yang penting adalah bersikap konsisten. Misalnya ketika menggunakan beru’-beru’, maka yang lain pun harus pakai koma atas. Seperti sandeq menjadi sande’, lipaq saqbe menjadi lipa’ sa’be. Kalau mau lebih konsisten, yang bahasa Indonesia pun demikian, jangan cuma bahasa daerah dong.
Kesimpulannya, membaca tulisan Mandar yang mana pada kata tersebut ada huruf “q” di tengah atau di akhir, itu adalah pengganti simbol “glottal stop” atau hamzah.
Contoh:
Maqita (melihat) diucapkan ma’ita BUKAN maQita
Maquduq (mencium bau) diucapkan ma’udu’  BUKAN maQuduQ
Maqgalung (bersawah) diucapkan ma’galung
Maqelong (menyanyi) diucapkan ma’elong BUKAN maQelong
Maqbaluq (menjual) diucapkan ma’balu’

*sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com/2014/12/mengapa-pakai-q-bukan.html

Ridwan Alimuddin: Mendokumentasikan Maritim Mandar


Muhammad Ridwan Alimuddin

MUHAMMAD RIDWAN ALIMUDDIN
Lahir: Tinambung, Polman, Sulawesi Barat, 23 Desember 1978
Istri: Hadijah Nurun (32)
Anak: Muhammad Nabigh Panritasagara
Pendidikan:
- SD Negeri 002 Tinambung, 1988
- MTsN Tinambung, 1991
- SMU Negeri Tinambung, 1994
- Jurusan Kelautan dan Perikanan Universitas Gadjah Mada, 1997-2001
Karya tulis:
- Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut, 2004
- Orang Mandar Orang Laut, 2005
- Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara, 2009
- Mandar Nol Kilometer, 2011
Penelitian:
- Riset Teknologi Roppo Mandar di Selat Makassar, 2001
- Riset Perahu Sandeq, 2002-2003
- Destructive Fishing di Segitiga Emas Nusantara dalam International 
  Proceeding Workshop on The Culture Ecological Dyinamic in Wallacea and 
  Establishing, 2004
- Pembicara pada Simposium Internasional Kebaharian di Universitas Kyoto,   Jepang, 2006
Dia tampil memaparkan konsep hukum dan pranata sosial nelayan Mandar, Sulawesi, pada simposium di Universitas Kyoto, Jepang, tahun 2006. Kini ia siap-siap mendampingi 12 nelayan Mandar mengikuti Festival Perahu layar Dunia di Brest, Perancis, Juli nanti.
OLEH ASWIN RIZAL HARAHAP DAN NASRULLAH NARA
Itu hanya salah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan Muhammad Ridwan Alimuddin dalam mendokumentasikan budaya maritim Mandar. Empat buku tentang Mandar ditulisnya dalam 5-6 tahun terakhir.     Dari segi jumlah, mungkin karyanya belum seberapa. Namun, karya intelektual Ridwan menjadi berbeda karena diperkaya dengan film dokumenter dan fotografi. Pantas jika ia menjadi rujukan bagi pemerhati kemaritiman Mandar, termasuk kalangan media dan akademisi mancanegara.     Mandar adalah salah satu suku yang mendiami jazirah barat Pulau Sulawesi. Suku yang "kental" dengan laut ini tersebar di pesisir Sulawesi Barat, mencakup Kabupaten Polewali Mandar, Majene, Mamuju, dan Mamuju Utara.     Suku yang berpopulasi sekitar 1 juta jiwa ini hidup berdampingan dengan tiga suku lainnya di provinsi tetangga, Sulawesi Selatan, yakni Bugis, MAkassar, dan Toraja. Sebagian orang Mandar juga berdiam di Ujunglero, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.     Inisiatif meneliti budya Mandar berangkat dari keprihatinan Ridwan akan minimnya kepustakaan tentang budaya Mandar. Saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, dia sempat kesulitan mencari referensi untuk membuat skripsi.     "Waktu itu, satu-satunya buku yang saya temukan di beberapa perpustakaan di Yogyakarta adalah Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan Sulawesi Selatan karya (almarhum) Baharuddin Lopa," kata Ridwan saat ditemui di rumahnya di Desa Pambusuang, Polewali Mandar, sulawesi Barat, dua pekan silam.     Jika Lopa lebih mengedepankan teori hukum kemaritiman, Ridwan terdorong mendalami peranti teknis nelayan Mandar. Agar fokus pada proses penelitian, tahun 2001, di tengah kuliah yang telah dijalani empat tahun, ia cuti kuliah empat semester.     Ia memulai penelitian di kampung halamannya, komunitas nelayan Pambusuang, Balanipa, dan Tangnga-tangnga, Tinambung. Ia turut  melaut bersama nelayan demi mendalami teknik penangkapan ikan dengan rumpon, tempat berkumpulnya ikan untuk berbiak yang sengaja dipasang nelayan di laut. Bahannya dirakit dari pelepah daun kelapa, ijuk dan sejenisnya, serta barang-barang bekas.
Mendalami "sandeq"
     Ridwan, putra pasangan Alimuddin dan Rahma Yasli, juga mendalami teknik penangkapan ikan dengan pukat cincin di Selat Makassar. Ia merasakan sensasi luar biasa saat ikut berburu ikan tuna dengan sandeq, perahu layar bercadik khas Mandar, yang dapat melaju hingga 40 kilometer per jam meski hanya digerakkan tenaga angin. Pengetahuan navigasi ia serap dari nelayan yang mengandalkan intuisi dan bintang di langit.     Ridwan tertarik meneliti lebih jauh seluk-beluk perahu sandeq. Ia lantas berkenalan dengan Horst Liebner, peneliti maritim Nusantara asal Jerman yang menggagas festival Sandeq Race sejak tahun 1995.     "Saya banyak berguru pada Horst, orang Eropa yang amat peduli pada kearifan lokal Mandar," kata anak kelima dari tujuh bersaudara itu.     Sandeq Race adalah ajang balap sandeq dengan rute Mauju-Makassar. Peserta berlayar sejauh 300 mil laut (sekitar 540 kilometer) selama 10 hari.     semakin hari, ia kian larut dan menikmati penelitiannya di laut. Ridwan lalu menetapkan hati untuk menjadi peneliti dan penulis agar kebudayaan Mandar mendunia.     Setahun kemudian, buku pertama Ridwan, Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? , diterbitkan penerbit Ombak, yogyakarta. Buku ini berisi hasil penelitiannya tentang penggunaan bom ikan di Selat Makassar, laut Jawa, dan Laut Banda yang disebutnya sebagai segitiga emas bahari Nusantara. Buku ini ia lengkapi film dokumenter Racun dan Bom Ikan, bekerja sama dengan Studio UMI Jepang.     Lewat bukunya yang lain, Orang Mandar Orang Laut, ia kembali mengisahkan kemampuan orang Mandar beradaptasi dengan zaman. Buku setebal 143 halaman itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2005.     Berkat ketekunannya, Ridwan pun diundang menjadi pembicara dalam simposium internasional di Universitas Kyoto, Jepang pada 2006. Dalam forum yang diikuti perwakilan lebih dari 20 negara itu, ia memaparkan hukum pranata sosial dalam teknik penangkapan ikan  rumpon di kalangan nelayan Mandar.     Sepulang dari Jepang, Ridwan kian intens membantu Horst dalam menyelenggarakan Sandeq Race yang rutin digelar setiap tahun. Animo nelayan dalam ajang balapan perahu layar itu cukup besar. Dari semula diikuti 20 perahu, tahun 2011 ajang balapan ini menyedot lebih dari 50 peserta.     Tahun 2008, Ridwan membantu stasiun televisi Jepang, NHK, membuat film dokumenter tentang perburuan telur ikan terbang. Telur ikan terbang merupakan komoditas ekspor selain ikan tuna.     Setahun berselang, buku ketiga Ridwan, Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara, dikeluarkan penerbit Ombak bekerja sama dengan Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar serta Yayasan Ad Daras Matakali. Buku ini mengulas rinci bentuk dan filosofi sandeq.     Ridwan lalu melengkapi informasi tentang kebudayaan Mandar dengan buku Mandar Nol Kilometer yang terbit tahun 2011. Buku setebal lebih dari 300 halaman itu berisi kumpulan esai yang menjelaskan serba-serbi kehidupan orang Mandar pada masa lalu sampai kini.     Ketertarikan Ridwan pada kebaharian Mandar tak lepas dari pengalaman masa kecil hingga dewasanya. Meskipun sang ayah bekerja sebagai pandai emas, Ridwan hidup di perkampungan nelayan Mandar di Tinambung. Istrinya, hadijah, juga tinggal di kampung nelayan Pambusuang.     Kini Ridwan tengah merampungkan buku Bingkai Sejarah Kabupaten Polewali Mandar: Alam, Budaya, Manusia, sertaEnsiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Mandar.      Ridwan adalah satu di antara sedikit tokoh muda yang mau peduli pada budaya Mandar.                                                                         (M FINAL DAENG)


*Sumber : http://sutarko.blogspot.com/2012/02/ridwan-alimuddin-mendokumentasikan.html


Satu Dekade untuk Mandar dan Nusantara



Muhammad Ridwan Alimuddin

Setiap pamanku, Suradi Yasil, memulai tulisan, selalu kata “Bismillah” yang pertama ditulis. Karakter itu terus ada di dalam file. Dikeluarkan di file yang akan di cetak. Saya belum bisa menirunya. Jujur, meski sering “bismillah”, tapi lebih banyak “lupa-nya”, setiap akan menuliskan sesuatu.
Baru beberapa hari ini saya ingat bahwa saya telah melakukan kegiatan tulis menulis selama sepuluh tahun. Kerennya, satu dekade. Kalau artis, biasanya buat konser, Satu Dekade bla… bla … bla …
Ide satu dekade kebetulan saja muncul saat cari-cari momen untuk memperkenalkan portal yang servernya telah lama dibeli; portanya baru sebulan; aplodnya baru beberapa minggu ini.
Sejak saya mengenal dunia internet, 1998, sejak membuat alamat email yang masih saya gunakan sekarang, sandeqlopi@yahoo.com (belakangan saya buat juga di gmail), beberapa tulisanku tersimpan di dunia maya. Entah di mana, apakah di Amerika, Singpura, atau Kutub Utara. Sebab ada di dunia maya, biar di mana, saya bisa mencari tulisan-tulisan tersebut. Sederhananya, ada penyimpanan praktis. Tinggal masukkan kata kunci atau cari di “sent”.
Cara kuno itu tetap saya gunakan sekarang. Tapi belakangan ada website yang banyak memuat tulisan saya, yakni www.panyingkul.comwww.mandarnews.com(tapi ini sudah tdk bisa diakses lagi), www.facebook.com,  www.kompasiana.com, dan www.koranmandar.com. Selain agar tulisan bisa dibaca publik, juga agar tulisan saya tersebut tersimpan. Mengandalkan hardisk komputer atau media lain seperti CD, HD eksternal, flasdisk agak bahaya juga. Misal rumah kebakaran, itu semua pasti sirna. Kalau ada di dunia maya, penyebab utk hilang data memang ada tapi kecil. Lagian data yang saya aplod ke internet bukan data super rahasia. Tulisan saja.
Saya sendiri biasa pusing mencari data tulisan. Apalagi kalau ada teman yang tanya tentang sesuatu. Yang biasa saya lakukan, saya cari file di komputer untuk kemudian menjadikannya attach saat kirim email ke teman yang tanya. Atau, kalau ada di internet, tinggal saya kasih link-nya.
Agar keribetan tersebut tdk terjadi lagi dan juga untuk memudahkan teman2 mengakeses tulisan saya, atau yang iseng mengetahui pikiran2 saya (hehehe), saya inisiatif membuat web pribadi. Isinya sederhana saja, menghimpun tulisan-tulisan saya yang berserakan.
Singkat cerita, alamat sudah ada, tinggal diisi. Setiap ada waktu luang, saya kumpulkan file-file tulisan saya selama ini (untung saya rajin simpan, jadi setiap tulisan yang saya buat belum pernah ada yang hilang atau terhapus), saya simpan ke dalam satu folder-file. Ketika online, tulisan2 saya cut dari Word lalu paste ke dalam kotak untuk aplod tulisan, “publish”.
Setidaknya ada 17 kategori yang telah saya buat saat tulisan ini dibuat. Itu untuk mengelompokkan tulisan2, agar mudah mencarinya. Ada beberapa tulisan yg kategorinya silang-menyilang, ada di ttg budaya, juga ada di laut, nusantara, perjalanan. Ada juga yg tdk, misalnya gadget.
Gampangnya, jika cari tulisan, masukkan saja kata kunci di kotak pencarian. Maka akan terekomendasi beberapa tulisan.
Sebelum tulisan pengantar ini saya buat, ke dalam portal tersebut telah ter-upload 318 artikel. Sebagian besar adalah artikel lama, ada yg awal tahun 2000an. Sebagian besar telah pernah termuat di media massa dan buku-buku yang saya tulis, khususnya ttg sandeq, mandar nol kilometer, dan mengapa kita belum cinta laut. Adapun Orang Mandar Orang Laut secara tersurat tidak ada, tapi sebenarnya tersirat ada. Seperti catatan perjalanan “motangnga”.
Sampai tanggal 12 desember ini, portal ini memuat kira-kira 70% tulisan yg telah saya buat. Masih ada yg belum, misalnya isi naskah Laut, Ikan dan Tradisi: Kebudayaan Bahari Mandar yang tebalnya 600san halaman, catatan riset tentang pemboman ikan, dan catatan pelayaran Ekspedisi The Sea Great Journey (saya sampai Malaysia saja) dan Ekspedisi Garis Depan Nusantara.
Yang telah saya aplod memang agak mudah, sebab tulisan pendek-pendek, kalau yang belum saya potong-potong dulu agar memudahkan. Dan itu butuh waktu khusus.
Setidaknya saya telah menulis empat buku. Ada untungnya, ada juga ruginya. Ya, itu dari segi materi. Butuh dana untuk cetak, tapi kalau pemasaran oke, untung betul. Tapi kalau profit yang diutamakan, agak susah. Sebab ilmu pengetahuan lama tersimpan. Kalau mati padahal belum terpublikasi, kan rugi sendiri.
Dan kalau dipikir-pikir, jika buku hanya dicetak 1000-2000 eksemplar, maka orang yang baca juga tak jauh dari angka-angka itu. Tapi kalau dimuat di web, maka yang baca bisa ribuan. Enaknya lagi, itu terukur. Teknologi memudahkan agar kita tahu jumlah klik ke artikel kita.
“Rugi-nya”, orang bebas copy tulisan tanpa memberikan materi biar sepersen pun. Bagi saya pribadi tidak apa-apa. Saya tak akan kelaparan dan jatuh miskin gara-gara berbuat seperti ini. Jika saya hutang saya lunas dan portal ini telah memuat 90% tulisan yang pernah saya buat selama saya hidup, untuk mati sudah tenang. Telah ada saya wariskan kepada anak saya. Hitung-hitung kepada Mandar dan Nusantara!

Semoga bermanfaat http://ridwanmandar.blogspot.com

Senin, 23 Februari 2015

Kalindaqdaq Mandar, Nilai Sindiran Penuh Kesopanan

Kalindaqdaq singkatnya boleh dikatakan puisi Mandar yang disampaikan dalam bahasa lokal penuh kiasan yang dalam. Puisi sigkat berbahasa daerah ini dapat anda dengar pada saat pagelaran “sayyang patuqduq” salah satu even budaya tahunan rutin yang dilaksanakan saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, atau kegiatan festival sayyang pattuqduq sendiri sebagai even budaya di Sulawesi Barat (cukup rutin dilksanakan beberapa tahun terakhir ini). Selain itu kalindaqdaq juga dapat anda dengar pada saat acara lamaran.


Penutur kalindaqdaq Mandar dalam festival budaya sayyang pattuqduq di kabupaten Majene
(Foto : Ohe Syam Suharso Syam)
Kalindaqdaq akan diperdengarkan saat kuda pattuqduq sejenak berhenti untuk menari, setelah si kuda menempuh jarak beberapa meter untuk mengangguk, menggoyangkan kepalanya mengiringi tabuhan rentak rebana dari para “parrawana”. Saat momen istirahat inilah maka si penutur kalindaqdaq akan setengah berteriak mengirimkan kata-kata puitis penuh sindiran yang dalam untuk sang penunggang kuda, wanita cantik yang mengenakan  pakaian adat daerah Mandar. Kadang para penutur menggunakan kata-kata “bolong” , kemungkinan ditujukan untuk sang kuda pattuqduq yang kebanyakan memiliki motif warna hitam. Sementara gadis cantik penunggang kuda kemugkinan akan disindir dengan penggunaan istilah “pandeng”, “beruq-beruq” atau istilah-istilah lainnya yang menggambarkan kecantikan misalnya “tomalolo”, dll.

Penutur kalindaqdaq Mandar

Kalindaqdaq Mandar disampaikan oleh seorang penutur, biasanya pemuda, atau lelaki paruh baya, bahkan biasanya orang tua, singkatnya ia dilakoni oleh kaum pria. Sang penutur kemudian akan memperdengarkan dalam bahasa daerah sindiran-sindiran yang disampaikan dalam konteks kalimat seperti ini “siapakah gerangan anak gadis cantik yang duduk diatas kuda itu, adakah yang telah memiliki, sekiranya belum maka sudilah ia membuka pintu rumahnya untuk kujejaki” konteks-konteks kalimat sindiran yang sejenis dengan ini akan sangat sering diperdengarkan. Satu hal yang menarik dan harus dimiliki oleh seorang penutur kalindaqdaq adalah ia harus memilik respon otak yang cuup cetak untuk merangkai kata-kata pujangga penuh makna sastra dengan diksi bahasa daerah Mandar yang tidak lumrah dipakai. Ia pun harus memiliki “vocabulary” perbendaharaan kata yang cukup kaya untuk diolah, disusun kemudian diucapkan dalam kata-kata dalam waktu yang cepat, bukan kemudian kumpulan-kumpulan kalimat yang dihafalkan. Hal ini juga dibutuhkan buat penutur atau pemain sayang-sayang Mandar, dimana ia akan menyampaikan jawaban sindiran yang berjalan secara cepat sesuai dengan tema yang disampaikan oleh lawan bermainnya dalam pertunjukan itu. Kalau dalam pertunjukan kalindaqdaq sayang-sayang penuturnya terdiri dari 2 orang kalindaqdaq Mandar dalam sayyang pattuqduq hanya dilakoni oleh satu orang saja, tidak ada feedback atau umpan balik dari lawannya, ia hanya bersifat satu arah saja.

Menarikkah kalindaqdaq untuk didengarkan?


Lalu menarikkah isi kalindaqdaq (pantun Mandar) ini? bagi anda yang tak paham dengan bahasa Mandar mungkin sulit untuk menemukan keseruan paduan bahasa yang  tinggi penuh kiasan itu. Tetapi jika anda sedikit paham maka anda akan sedikit memberikan ekspresi, entah itu dengan tersenyum, mengangguk, atau terheran-heran. Mengapa ekspresi itu yang akan hadir? Ya, karena anda akan cukup kagum dengan gaya menyindir ala kalindaqdaq yang begitu dalam. Tujuannya ke titik A namun harus mampir dulu ke titik B dan titik C untuk menuju ke titik D sebagai titik final sindirannya.  Sama halnya dengan pertunjukan wayang yang disampaikan dalam bahasa Jawa yang sulit kita pahami jika kita tidak mengerti dengan bahasa Jawa demikian halnya dengan kalindaqdaq Mandar, anda akan bosan jika sama sekali tak tahu artinya. Namun bentuk pemahaman terhadap pantun Mandar ini cukup sulit kita cerna, satu alasannya adalah bahwa diksi atau pemilihan kata yang digunakan dalam kalindaqdaq cukup jarang kita temukan dalam penggunaan bahasa daerah Mandar sehari-hari. Bahasa yang digunakan dalam kalindaqdaq Mandar cenderung merupakan jenis ekspresi yang puitis, hiperbola, dan penuh personifikasi.

Belajar menuturkan kalindaqdaq


Menuturkan kalindaqdaq bukanlah hal yang mudah, dapat dikatakan ini hal yang sulit untuk dilakoni, terlebih pada mereka yang sama sekali tak tahu bahasa daerah Mandar. Pun mereka yang tahu berbahasa Mandar secara aktif belum tentu mampu menuturkan kalindaqdaq. Sepenuhnya tutur kalindaqdaq adalah ekspresi sastrawan/pujangga dalam merangkai kata-kata indah nan puitis. Untuk sampai ke tahap ini ada banyak tahapan yang harus anda lalui,hal yang paling dasar adalah andaa mengerti tentang bahasa Mandar, bisa berbahasa daerah ini dengan aktif dan sering membaca atau mendengarkan kalindaqdaq dituturkan. Sama halnya dengan cara belajar orang-orang pada umumnya dengan prinsip “adalah bisa karena biasa”  hal ini juga yang berlaku jika anda ingin belajar menuturkan kalindaqdaq. Para penutur kalindaqdaq yang hebat biasanya merupakan orang-orang yang memiliki lingkungan yang kental dengn budaya Mandar, sehingga mereka dengan mudahnya merangkai kata-kata hanya dari peristiwa sehari-hari yang mereka jalani. Secara tidak langsung lingkungan dimana anda bermukim akan semakin mempermudah anda untuk lebih mahir dalam menuturkan pantun Mandar ini. Ada keseruan ketika anda dapat merangkai kata-kata sendiri yang sedikit puitis untuk menyindir seseorang.
Walaupun kalindaqdaq lebih sering diidentikkan untuk menyindir wanita, kalindaqdaq sejatinya lebih luas, bahkan kritik kepada orang tua, teman, kawan, lawan, atau pihak penguasa dapat anda sampaikan lewat pantun Mandar ini. Bisa dikatakan lebih berbudaya ketika anda menyindir lewat kalindaqdaq. Para pemuka adat dahulu di daerah Mandar lebih banyak menggunakan cara-cara sindiran untuk melakukan teguran. Bahkan melalui simbol-simbol pakaian pemuka adat dahulu menyindir orang yang tidak disukainya melalui cara ini, misalnya jika ada pihak yang tidak disukai, ketika ia bertemu maka songkok adatnya akan sedikit dimiringkan dan bagian gagang kerisnya akan dihadapkan menghadap pada pihak yang tidak disukai, ini potret betapa kemudian sikap dan nilai kesopanan selalu didahulukan walaupun ada kebencian yang ingin disampaikan, tidak lalu dengan serta merta melakukan kontak fisik secara langsung.

*sumber : http://kpbwm.or.id/budaya/426-kalindaqdaq-mandar-nilai-sindiran-penuh-kesopanan.html

Bau Peapi Mandar, Warisan Asli Nenek Moyang Mandar

Pernah mencicipi masakan ikan dengan kuah yang kental bercampur minyak kelapa nan gurih? Bau Peapi Mandar mungkin adalah menu yang tepat untuk mengilustrasikan jenis kuliner tersebut. Kuliner ini adalah andalan suku Mandar, menu yang selalu dirindukan oleh orang-orang perantauan yang jauh dari tanah pusaka. Rasa gurih kuah yang meresap masuk jauh kedalam putih daging ikan menjadikannya suatu yang sangat didamba. Dan ketika mencicipi kuliner ini orang-orang Mandar seolah merasa kembali ke selera leluhur mereka.
Kuliner bau peapi Mandar yang selalu dirindukan oleh warga Mandar yang berada di perantauan
(Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Berikut kami sajikan mengenai resep, bahan, dan cara membuat kuliner bau peapi Mandar
Bahan :
1. Ikan jenis tuna (cakalang) baik yang telah diiris atau dalam keadaan utuh, atau jenis ikan lainnya (bandeng, kembung) juga bisa dijadikan sebagai bahan utama
2. Bawang Mandar segar, warga lokal biasa menyebutnya “lasuna Mandar” atau bawang daun, yaitu jenis bawang yang serupa dengan bawang jenis prei namun lebih pendek, memiliki daun yang agak panjang dan dijadikan bahan untuk dicampurkan dalam kuah ikan
3. Bawang merah, atau biasa disebut “lasuna mamea” sebagai bumbu dasar
4. Cabe rawit atau “cawe-cawe keccuq”
5. Cabe besar atau “cawe-cawe kaiyyang”
6. Asam mangga yaitu asam yang terbuat dari mangga dan telah melalui proses pengeringan, di Mandar biasa disebut “pammaissang”
7. Kunyit atau “asso”
8. Minyak kelapa, diutamakan yang berasal dari jenis “minna Mandar” dengan tigkat lemak yang cukup tinggi (sangat khas)
9. Garam (secukupnya)
10. Merica (jika ingin lebih pedas)
Catatan : sebaiknya menggunakan periuk atau kuali yang terbuat dari tanah liat untuk lebih memperkuat cita rasa alaminya, dan memasaknya dengan kayu bakar untuk mendapatkan sensasi alamnya.
Jenis bawang daun atau sering disebut "lasuna Mandar" oleh warga lokal (Foto : Pusvawirna Natalia Muchtar)

Adapun mengenai cara membuat kuliner bau peapi Mandar ini dapat dijelaskan secara sederhana dalam beberapa langkah berikut ini :
1. Cucilah ikan terlebih dahulu sampai bersih
2. Setelah itu cuci asam mangga “pammaissang” dan sisa airnya dituang ke tempat ikan yang telah dicuci untuk menghilangkan rasa amisnya.
3. Haluskan garam secukupnya (jika memakai garam kasar) di ulekan sampai halus jika anda menggunakan garam halus maka tak perlu dihaluskan lagi.
4. Masukkan  cabe rawit, cabe besar dan bawang merah  ke dalam ulekan dan haluskan.
5. Lalu tuang air “pammaissang” pada ikan tadi, dan masukkan ke dalam kuali.
6. Masukkan bumbu yang telah dihaluskan sebelumnya (dalam ulekan)
7. Masukan bawang daun “lasuna Mandar” yang telah diiris tipis berserta dengan daunnya yang dipotong-potong kecil
8. Masukkan kunyit secukupnya
9. Masukkan minyak kelapa Mandar 4 sendok makan (atau sesuai selera), jika anda ingin rasanya lebih gurih maka bisa ditambahkan lebih banyak.
10. Lalu ratakan bumbu yang telah dimasukkan dalam kuali dengan ikannya, pastikan tercampur rata (hati-hati jangan sampai ikannya hancur )
11. Masukkan air secukupnya ( sesuaikan dengan jumlah garam yang ada)
12. Rebus beberapa menit (dalam kuali tanah liat)
13. Ketika ikannya mendidih anda bisa menambahkan penguat rasa didalamnya (tergantung selera)

Adanya penambahan elemen minyak kelapa khas Mandar yang dibuat dengan teknik-teknik tradisional membuat kandungan lemak yang sangat tinggi dalam minyak ini menjadi penguat rasa gurih dalam kuah bau peapi Mandar. Maka kemudian jika anda ingin membuat masakan ini tanpa menggunakan minyak khas ini maka dapat dijamin anda tidak akan mendapatkan rasa yang sesungguhnya. Sementara minyak makan yang beredar dipasaran saat ini adalah sebagian besar dari bahan kelapa sawit dengan bahan kandunga lemak yang telah disaring sedemikian rupa.
Puncak kelezatan kuliner bau peapi khas Mandar adalah pada paduan bumbu, asam mangga, minyak dan kesegaran ikan yang menyatu dimana beberapa dari bahan tersebut hanya dapat dengan mudah ditemukan dalam wilayah-wilayah Mandar, jika anda diluar wilayah itu anda mungkin harus sedikit berjuang untuk mendatangkan bahan baku yang asli.

*sumber : http://kpbwm.or.id/kuliner/384-resep-bau-peapi-mandar-warisan-leluhur-yang-lestari.html