Mengenal Perahu Tercepat Sedunia: Sandeq!

*** Sandeq adalah Mandar, karena sandeq lahir dari suku Mandar. Sebelumnya, perahu mereka bernama Pakur, yakni jenis perahu bercadik masih kasar bentuknya dan lebih lebar. Pakur kemudian berevolusi, menjadi sandeq.

Saqbe Mandar

Mempertanyakan Defenisi “Saqbe Mandar” (01): Sutra Palsu dan Sutra Abal-abal

Saeyyang Pattuqduq Mandar

Penyelenggaraan tradisi saeyyang pattuqduq bagi orang Mandar lebih merupakan apresiasi positif masyarakat dalam hal ini orang tua anak yang telah khatam bacaan Qurannya.

Fotografer Mandar

Setahu saya, masyarakat umum terdidik (baca: yang pernah menempuh pendidikan sampai universitas) Tinambung yang memiliki minat terhadap fotografi (bukan sebagai pekerjaan, tapi sebagai hobby) era 90-an hanya ada dua, yaitu Asmadi Alimuddin dan Syariat Tadjuddin

Baharuddin Lopa

Baharuddin Lopa Sang Pendekar Hukum Dari Tanah Mandar

Festival Sungai Mandar 2015

"Dengan Sungai Aku Mencintaimu"

Suku Mandar Dalam Wikipedia

"Suku Mandar adalah kelompok etnik di Nusantara, tersebar di seluruh pulau Sulawesi , yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan,Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara, juga tersebar di beberapa provinsi di luar sulawesi seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Malaysia."

Abrasi Pantai "Assapambusuangan" di Desa Sabang Subik

"Kontroversi Penanggulangan Abrasi Pantai "Assapambusuangan" di Desa Sabang Subik."

Tampilkan postingan dengan label KAREWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAREWA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2015

Kontroversi Penanggulangan Abrasi Pantai "Assapambusuangan" di Desa Sabang Subik

Beberapa bulan yang lalu saya pernah kembali ke kampung halaman dalam rangka Trip ( Jalan-Jalan). Di sela-sela trip saya selalu "sharing-sharing" atau diskusi dengan pemuda setempat tentang pantai abrasi Sabang Subik (Masyarakat luar biasa menyebutnya "Sappambusuangan") Kec. Balanipa Kab. Polewali Mandar. Trip itu dipublikasi oleh Kompa Dansa Mandar tentang " Abrasi Pantai, Ironi Pesisir Desa Sabang Subik, Kec. Balanipa, Kab. Polman"  (Silahkan Baca Disini). Beberapa hari yang lalu saya kembali lagi ke kampung dengan kegiatan yang sama serta melakukan diskusi hal yang sama 04/05/2015. Ada hal yang menjadi menarik dari perbicangan kami dalam sebuah sharing bahwa masyarakat setempat seolah-olah acuh tak acuk dengan pantai tersebut. Bagaimana tidak ? Sebab ada beberapa sebagian masyarakat yang membiarkan fenonema terkikisnya pantai. Saya pernah mengajukan saran bahwa pantai tersebut karena sudah darurat maka harus ditangani dengan darurat pula yaitu pembuatan pondasi di sepanjang pantai. Sebenarnya solusi ini sudah lama diwacanakan namun masyarakat yang kontra berpendapat bahwa kalau pantai dipondasi maka tidak ada tempat kapal atau perahu sandeq bersandar. Masalah pantai ini bukan cuma pada abrasi akan tetapi pantai sudah betul tercemar dengan sisa limbah masyarakat yang semuanya dibuang di pinggir pantai.



Abrasi pantai di desa Sabang Subik, kec. Balanipa, Kab. Polewali Mandar (Foto : Hasbi)

Perlu diketahui bahwa "Sappambusuangan" Mulai dari Desa Bala sampai ke Desa Galung Tulu banyak masyrakat yang tinggal di pesisir pantai. Kondisinya seperti di jakarta itu kelihatan sangat berdamping dan saling merapat. Artinya jika masyarakat setempat masih berkontrovensi hanya karena tidak ada bersandar kapal maka sampai kapan kita akan mampu menunggu rumah-rumah yang akan hancur dan terpaksa harus pindah disebabkan abrasi pantai. Belum lagi kurangnya  perhatian pemerintah setempat bahkan di kabupaten yang bermain disebatas wacanan bahkan janji. Saya tidak bisa membayangkan kedepannya berapa mesjid akan menjadi korban, sebab banyak mesjid letak mendekati pantai termasuk mesjid Attaqwa Pambusuang. Menurut saya ini bukan lagi harus mendengar pendapat segilintir orang hanya karena alasan tempat bersandar kapal. Logika adalah kita mau pilih yang mana, tinggal di pesisir pantai atau tinggal di kapal ?

Semoga suara ini bermanfaat. 

Minggu, 22 Maret 2015

Pantai Perawan "GONDA"

Kalau bicara tentang pantai GONDA, pasti akan banyak yang langsung bertanya "pantai GONDA itu di mana ?". Memang pertanyaan tersebut tidaklah salah karena belum banyak orang yang berkunjung ke tempat ini, Namun kali ini saya ingin bercerita sekaligus mengulas habis apa yang nampak di kedua bola mata saya tentang pantai GONDA. 
Pesona keindahan pantai GONDA yang tak jauh dari pantai labuang dan pantai palippis tepatnya di dusun Gonda, desa Laliko, kec Campalagian kabupaten Polewali mandar. Untuk bisa sampai ke pantai GONDA dari terminal kecamatan wonomulyo bisa ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan mobil atau sepeda motor menuju campalagian, tak perlu repot karna lokasi pantai GONDA hanya berjarak 200 meter dari jalan poros mejene, depan pos polisi kehutanan campalagian.

Pantai Gonda, Kecamatan Campalagian Kab. Polewali Mandar

Keunikan pantai GONDA dari sektor pesisir adalah hutan mangrove-nya yang membentang panjang meliuk mengikuti bibir pantai, yang tak lain juga berfungsi sebai pelindung bagi tambak warga sekitar dari pengikisan air laut (abrasi). untuk menikmati keindahan hutan mangrove di pesisir pantai GONDA anda dapat menggunakan lepa-lepa (sampan), tapi jika ingin lebih detail mengetahui tentang tanaman mangrove, ada baiknya kalau anda menyisiri pesisir pantai dengan berjalan kaki "tentunya dengan jasa guide", tapi harus tetap berhati-hati karna di sekitar hutan mangrove ada banyak tiram yang dapat melukai kaki anda, sangat di anjurkan menggunakan sandal/sepatu.
Tak sampai di situ karna anda juga bisa berkeliling mengitari birunya laut dengan menggunakan perahu yang dapat ditemukan di sepanjang pantai yang disewakan oleh para penduduk sekitar. tarif yang di kenakan-pun cukup murah yaitu Rp 50.000 dan sekali perjalanan dengan durasi waktu sekitar 1 - 2 jam, anda tak perlu merasa jenuh karna pengemudi perahu akan menunjukkan pada anda spot-spot menarik, baik hanya untuk berjalan-jalan mencuci mata ataupun untuk di jadikan lokasi snorkling.


Nemo dibawah laut Gonda

Kita dapat melakukan berbagai aktivitas, mulai dari berjemur di pantai, berenang, menyelam, memancing, Kita juga dapat berjalan-jalan mengitari pantai GONDA dengan berjalan kaki mengikuti garis pantai,atau hanya sekadar bermain-main saja. Di sekitar perairan pantai GONDA juga bisa ditemukan berbagai macam terumbu karang yang penuh dengan spesies ikan yang unik, lucu, berwarna-warni, dan kalau kita beruntung kita dapat melihat penyu , lobster. Namun perlu diingat juga bahwa harus ekstra hati-hati, karena di beberapa tempat pantai ini memiliki karang-karang yang tajam.
Sedikit informasi bahwa pantai GONDA ini memiliki bentang panjang hutan mangrove kurang lebih 1,46 km, yang berpenghuni tetap sekitar 150 kepala keluarga dan hanya sekitar 35 kepala keluarga yang berdiam di sekitar pesisir pantai. Bila ke sana, jangan berpikir bahwa akan menemukan fasilitas mewah, yang kita temukan hanyalah beberapa fasilitas berupa beberapa rumah pohon dengan kapasitas maksimal 6 orang, serta tempat menyewa perahu untuk melakukan aktifitas di laut. 


Terumbuh Karang

Tak ada warung ataupun rumah makan yang menyediakan makanan. jadi untuk para wisatawan lokal ada baiknya sebelum ke tempat ini anda belanja kebutuhan anda terlerlebih dahulu. Tapi sekalipun tempatnya sederhana dan jauh dari segala macam kemewahan, kombinasi pemandangan pantai dengan hutan mangrove di sekitarnya serta situasi yang tenang, nyaman, dan keramahan warga setempat memiliki daya tarik tersendiri yang membuat kita betah tinggal berlama-lama di pantai ini. Saya masih belum puas rasanya mengeksplor pantai ini. Ingin rasanya kembali ke sana dan menikmati semua keindahan yang ada di sana. =>‪#‎BERSAMBUNG‬
‪#‎mari_ke_gonda‬
‪#‎Liat_hutan_mangrove‬
‪#‎Liat_coral‬
‪#‎Liat_indahnya_alam‬
‪#‎SALAM_TRAVELER‬

Sumber : https://www.facebook.com/groups/914981505196888/permalink/1012346278793743/
Penulis : Muhammad Abrar 

Minggu, 01 Maret 2015

Suku Mandar Dalam Wikipedia



Suku Mandar adalah kelompok etnik di Nusantara, tersebar di seluruh pulau Sulawesi , yaitu Sulawesi BaratSulawesi Selatan,Sulawesi TengahSulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara, juga tersebar di beberapa provinsi di luar sulawesi seperti Kalimantan SelatanKalimantan TimurJawa dan Sumatera bahkan sampai ke Malaysia.
Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi Barat. Dulunya, sebelum terjadi pemekaran wilayah, Mandar bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja mewarnai keberagaman di Sulawesi Selatan. Meskipun secara politis Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan diberi sekat, secara historis dan kultural Mandar tetap terikat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan. Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Secara etnis Pitu Ulunna Salu atau yang biasa dikenal sebagai Kondosapata tergolong ke dalam grup Toraja (Mamasa dan sebagian Mamuju), sedangkan di Pitu Ba’ba’na Binanga sendiri terdapat ragam dialek serta bahasa yang berlainan. Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.
Rumah adat suku Mandar disebut Boyang. Perayaan-perayaan adat diantaranya Sayyang Pattu'du (Kuda Menari), Passandeq(Mengarungi lautan dengan cadik sandeq), Upacara adat suku Mandar , yaitu "mappandoe' sasi" (bermandi laut). Makanan khas diantaranya Jepa, Pandeangang Peapi, Banggulung Tapa, dll.
Suku Mandar terdiri atas 17 (kerajaan) kerajaan, 7 (tujuh) kerajaan hulu yang disebut "Pitu Ulunna Salu", 7 (tujuh) kerajaan muara yang disebut "Pitu ba'bana binanga" dan 3 (tiga) kerjaan yang bergelar "Kakarunna Tiparittiqna Uhai".
Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Ulunna Salu adalah :
  1. Kerajaan Rante Bulahang
  2. Kerajaan Aralle
  3. Kerajaan Tabulahang
  4. Kerajaan Mambi
  5. Kerajaan Matangnga
  6. Kerajaan Tabang
  7. Kerajaan Bambang
Tujuh kerajaan yang tergabung dalam wilayah Persekutuan Pitu Baqbana Binanga adalah :
  1. Kerajaan Balanipa
  2. Kerajaan Sendana
  3. Kerajaan Banggae
  4. Kerajaan Pamboang
  5. Kerajaan Tapalang
  6. Kerajaan Mamuju
  7. Kerajaan Benuang
Kerajaan yang bergelar Kakaruanna Tiparittiqna Uhai atau wilayah Lembang Mapi adalah sebagai berikut :
  1. Kerajaan Alu
  2. Kerajaan Tuqbi
  3. Kerajaan Taramanuq
Di kerajaan-kerajaan Hulu pandai akan kondisi pegunungan sedangkan kerajaan-kerajaan Muara pandai akan kondisi lautan. Dengan batas-batas sebelah selatan berbatasan dengan Kab. PinrangSulawesi Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Kab. TorajaSulawesi Selatan, sebelah utara berbatasan dengan Kota PaluSulawesi Tengah dan sebelah barat dengan selat Makassar.
Sepanjang sejarah kerajaan-kerajaan di Mandar, telah banyak melahirkan tokoh-tokoh pejuang dalam mempertahankan tanah melawan penjajahan VOC seperti: Imaga Daeng Rioso, Puatta i sa'adawang, Maradia Banggae, Ammana iwewang, Andi Depu, meskipun pada akhirnya wilayah Mandar berhasil direbut oleh pemerintah VOC.
Dari semangat suku Mandar yang disebut semangat "Assimandarang" sehingga pada tahun 2004 wilayah Mandar menjadi salah satu provinsi yang ada di Indonesia yaitu provinsi Sulawesi Barat.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandar

KODE ETIK KEPARIWISATAAN DUNIA


P E M B U K A A N
Kami para anggota Organisasi Kepariwisataan Dunia (World Tourism
Organization), perwakilan industri pariwisata dunia, para delegasi Negara,
teritorial, perusahaan, institusi dan lembaga yang menghadiri Sidang Umum di
Santiago, Chili, tanggal 1 Oktober 1999;
Menegaskan kembali bahwa tujuan-tujuan yang tercantum dalam pasal 3 Anggaran
Dasar Organisasi Kepariwisataan Dunia, dan menyadari peran “penting dan menentukan”
dari Organisasi ini, seperti diakui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk
mendorong dan mengembangkan kepariwisataan dalam rangka memberikan sumbangan
terhadap pengembangan ekonomi, pengertian antar bangsa, perdamaian, kesejahteraan,
menghormati dan mematuhi nila-nilai Universal Hak Azasi Manusia dan kebebasan yang
mendasar bagi semua, tanpa adanya perbedaan ras, jenis kelamin, bahasa atau agama;
Meyakini dengan sesungguhnya bahwa melalui hubungan yang langsung, spontan dan
tanpa perantara dapat meningkatkan hubungan antar pria maupun wanita dari berbagai
budaya dan gaya hidup. Kepariwisataan merupakan kekuatan yang sangat penting untuk
menciptakan perdamaian dan faktor untuk membangun persahabatan serta saling
pengertian antar penduduk di dunia;
Menimbang bahwa eratnya hubungan kepariwisataan dengan pelestarian lingkungan,
pembangunan perekonomian dan upaya untuk mengentaskan kemiskinan secara
berkelanjutan, seperti dirumuskan dan telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa
tahun 1992 dalam “Konferensi Tingkat Tinggi tentang Bumi” di Rio de Janeiro dan
dicantumkan dalam “Agenda 21”;
Mempertimbangkan terjadinya perubahan yang cepat dan terus tumbuhnya
kepariwisataan di masa lalu maupun di masa mendatang untuk tujuan berlibur, bisnis,
kebudayaan, keagamaan atau kesehatan, serta pengaruhnya yang kuat baik secara positif
maupun negatif terhadap lingkungan, perekonomian dan masyarakat baik bagi negara
sumber wisatawan maupun negara penerima wisatawan, terhadap masyarakat lokal dan
penduduk asli, dan juga terhadap hubungan internasional maupun perdagangan;
Bertujuan untuk memajukan kepariwisataan yang bertanggung-jawab, berkelanjutan dan
kepariwisataan yang terbuka secara universal dalam kerangka hak setiap orang untuk
mengisi waktu luangnya, berekreasi atau melakukan perjalanan sebagai pilihan
masyarakat dari seluruh penduduk;
Mempunyai keyakinan bahwa industri pariwisata dunia secara keseluruhan mempunyai
banyak kemanfaatan dengan melaksanakannya dalam suatu suasana yang
menguntungkan ekonomi pasar, perusahaan swasta, perdagangan bebas, dan itu
semuanya diarahkan untuk mengoptimalkan dampak kemanfaatannya dalam menciptakan
kesejahteraan dan penciptaan lapangan kerja;

Selengkapnya Silahkan 

Rabu, 25 Februari 2015

Aplikasi 'DPR KITA' untuk Menata Demokrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Waki ketua komisi VIII DPR dari Fraksi PKS, Ledia Hanafi mengatakan, aplikasi 'DPR Kita' menjadi kesempatan besar yang dimiliki DPR untuk terus meningkatkan kinerjanya.


Bahkan, ia menilai, hadirnya aplikasi 'DPR KITA' menjadi terobosan besar dalam pengembangan demokrasi di Indonesia. Selain itu juga harus terus disosialisasikan terutama kepada para anggota DPR.

"Jadi ini menjadi kesempatan besar untuk mengedukasi masyarakat dan tidak hanya itu dapat juga memberi edukasi kepada anggota dewan itu sendiri terkait penyerapan aspirasi masyarakat," ujar Leida, di Jakarta, Selasa (24/2).

Tidak hanya itu, aplikasi ini dapat menjadi bentuk lain sumbangsih atas penataan demokratisasi di Indonesia. Bahkan secara khusus, Ledia juga menyebut, aplikasi ini bisa menjadi sarana klarifikasi untuk para anggota DPR terutama terkait adanya pemberitaan-pemberitaan yang kurang tepat soal kinerja DPR.

Namun, Leida berharap, aplikasi ini bisa tersambung dengan akun-akun media sosial, seperti twitter dan facebook, yang sudah lebih dahulu dimiliki oleh anggota DPR.
Selain itu, aplikasi ini bisa dikembangkan tidak hanya di smartphone. Hal ini terkait dengan jangkauan yang luas kepada para konstituen yang berada di daerah. "Jadi tidak hanya di wilayah perkotaan, bagaimana dengan yang ada di pelosok daerah-daerah," ujar Ledia.

*sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/02/24/nka7i0-aplikasi-dpr-kita-untuk-menata-demokrasi

Festival Sungai Mandar Kembali Dihelat

Setelah berhasilnya Festival Sungai Mandar pada tahun 2015, kini Uwake Culture Foundation bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Polewali Mandar kembali menghelat Festival Sungai Mandar ke-2 yang insha allah akan dihelat pada tanggal 11-14 Maret 2015. Kabar yang menggembirakan adalah kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan bagi dinas terkait dengan komunitas uwake culture foundation yang dimana ditetapkan setiap bulan maret. Kegiatan ini bersinergi dengan beberapa komunitas-komunitas pemuda yang bergerak di bidang film, seni serta budaya serta didukung langsung oleh dinas Pariwisata dan Kebudayaan Polewali Mandar.


Bertemakan “Dengan Sungai Aku Mencintaimu”, secara filosofis ingin menyampaikan sebuah harapan bahwa laut dan hutan lewat sungai sebagai penghubungnya itu bisa saling menjaga keharmonisannya. Tapi tentu ini tidak luput dari campur tangan manusia bagaimana menjaga sungai tersebut agar tetap menyatu dan tidak merusak. Berbagai kegiatan bernuansa budaya lokal, pertunjukan seni, serta kunjungan wisata dijadwalkan dihelat pada kegiatan ini.  Pertunjukan seni akan dipusatkan di sekitar jembatan Tinambung di Kelurahan Tinambung Kec. Tinambung Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat. 
Berikut beberapa rancangan kegiatan festival Sungai Mandar yang dirilis oleh pihak pelaksana kegiatan ini yang dikutif melalui blog resmi panitia (http://festivalsungaimandar.blogspot.com)
1. Workshop
2. Pameran
3. Pertunjukan
4. Lomba
5. Wisata sejarah dan edukasi
6. Wisata tirta dan alam sungai Mandar
7. Bazaart (wisata kuliner dan cinderamata)
8. Sarasehan/Diskusi
9. Pemutaran film dokumenter
Pra event :
– Perkemahan semalam di Alu ( tempat pembuatan dan peluncuran rakit bambu)
– Workshop
– Lomba cerpen, kerajinan daur ulang sampah, photografi, penulisan cerpen, melukis, film pendek.
1. Workshop :
a. workshop mengelola sampah basah dan kering (daur jadi pupuk dan kerajinan
2. Pameran :
a. Pameran lukisan & photografi
b. Pameran instalasi
3. Pertunjukan :
a. Pertunjukan Seni Tradisional Mandar :
1. Musik passayang-sayang
2. Musik parrawana (tommuane dan tobaine)
3. Musik pakkacaping (tommuane dan tobaine)
4. Musk pakkeke dan paccalong
5. Tari pattuqduq (tobaine)
6. Tari pallake
7. Pencak silat/pakkottau
b. Pertunjukan Modern, Pop dan Kontemporer :
1. Musik bertema sungai – lingkungan
2. Musik Pop Mandar
3. Sastra (puisi, cerpen, monolog)
4. Teater
5. Tari kreasi, modern dan kontemporer
6. Performance art
4. Lomba :
a. Lomba lepa-lepa
b. Lomba berenang
c. Lomba menggambar dan melukis
d. Lomba kerajinan dari sampah
e. Lomba fhotografi
f. Lomba penulisan cerpen
g. Lomba film pendek/dokumenter
5. Wisata sejarah dan edukasi :
a. Situs Todilaling dan Tomepayung/bala tau, Napo/Tammajarra
b. Perpustakaan Mandar, Majene
c. Sentra tenun sarung sutra Mandar, Karama (transfortasi bendi)
6. Wisata tirta dan alam sungai Mandar :
a. Merakit bambu susuri sungai Mandar dari Alu – Tinambung
b. Naik lepa-lepa dan katingting susuri pinggir sungai Mandar wilayah Tinambung –
Lekopadis (tempat ambil uwai sau/air minum)
c. Memancing dipinggir tanggul sungai Mandar
7. Bazaart (wisata kuliner dan cinderamata)
a. Diarea panggung satu (ex.pasar Tinambung) tersedia stand souvenir/cinderamata
Khas Sulawesi Barat.
b. Diarea panggung dua (pinggir tanggul sungai Mandar dan ex.pasar ikan) tersedia stand kuliner makanan khas Mandar dan tersedia stand bazaar batu pemrmata Mandar.
c. Bazar batu permata Mandar
8. Sarasehan/Diskusi :
a. Diskusi sungai dan lingkungan
b. Diskusi seni, budaya dan pariwisata
9. Pemutaran film dokumenter dan lingkungan

Selasa, 24 Februari 2015

Baharuddin Lopa dan Perjalanannya

Ketika menjabat Jaksa Tinggi Makassar, ia memburu seorang koruptor kakap, akibatnya ia masuk kotak, hanya menjadi penasihat
Menteri. Ia pernah memburu kasus mantan 
Presiden Soeharto dengan mendatangi teman-temannya di Kejaksaan Agung, di saat ia menjabat Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa menanyakan kemajuan proses perkara 
Pak Harto. Memang akhirnya kasus 
Pak Harto diajukan ke pengadilan, meskipun hakim gagal mengadilinya karena kendala kesehatan.

Baharuddin Lopa

Lopa dan Bismar Siregar merupakan contoh yang langka dari figur yang berani melawan arus. Sayang Lopa sudah tiada dan Bismar sudah pensiun. Tetapi mereka telah meninggalkan warisan yang mulia kepada rekan-rekannya. Tentu untuk diteladani.

Baharudin Lopa meninggal dunia pada usia 66 tahun, di rumah sakit Al-Hamadi Riyadh, pukul 18.14 waktu setempat atau pukul 22.14 WIB 3 Juli 2001, di Arab Saudi, akibat gangguan pada jantungnya.

Lopa, mantan Dubes RI untuk Saudi, dirawat di ruang khusus rumah sakit swasta di Riyadh itu sejak tanggal 30 Juni. Menurut Atase Penerangan Kedubes Indonesia untuk Arab Saudi, Joko Santoso, Lopa terlalu lelah, karena sejak tiba di Riyadh tidak cukup istirahat.

Lopa tiba di Riyadh, 26 Juni untuk serah terima jabatan dengan Wakil Kepala Perwakilan RI Kemas Fachruddin SH, 27 Juni. Kemas menjabat Kuasa Usaha Sementara Kedubes RI untuk Saudi yang berkedudukan di Riyadh. Lopa sempat menyampaikan sambutan perpisahan.

Tanggal 28 Juni, Lopa dan istri serta sejumlah pejabat Kedubes melaksanakan ibadah umrah dari Riyadh ke Mekkah lewat jalan darat selama delapan jam.

Lopa dan rombongan melaksanakan ibadah umrah malam hari, setelah shalat Isya. Tanggal 29 Juni melaksanakan shalat subuh di Masjidil Haram. Malamnya, Lopa dan rombongan kembali ke Riyadh, juga jalan darat.

Ternyata ketahanan tubuh Lopa terganggu setelah melaksanakan kegiatan fisik tanpa henti tersebut. Tanggal 30 Juni pagi, Lopa mual-mual, siang harinya (pukul 13.00 waktu setempat) dilarikan ke RS Al-Hamadi.

Presiden KH Abdurahman Wahid, sebelum mengangkat Jaksa Agung definitif, menunjuk Soeparman sebagai pelaksana tugas-tugas Lopa ketika sedang menjalani perawatan. Penunjukan Soeparman didasarkan atas rekomendasi yang disampaikan Lopa kepada Presiden. Padahal Lopa sedang giat-giatnya mengusut berbagai kasus korupsi.

Sejak menjabat Jaksa Agung, Lopa memburu Sjamsul Nursalim yang sedang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang dirawat di Singapura agar segera pulang ke Jakarta. Lopa juga memutuskan untuk mencekal Marimutu Sinivasan. Namun ketiga konglomerat ?hitam? tersebut mendapat penangguhan proses pemeriksaan langsung dari Wahid, alias
Gus Dur.

Lopa juga menyidik keterlibatan 
Arifin Panigoro, 
Akbar Tandjung, dan Nurdin Halid dalam kasus korupsi. Gebrakan Lopa itu sempat dinilai bernuansa politik oleh berbagai kalangan, namun Lopa tidak mundur. Lopa bertekad melanjutkan penyidikan, kecuali ia tidak lagi menjabat Jaksa Agung.

Sejak menjabat Jaksa Agung, 6 Juni 2001, menggantikan Marzuki Darusman, Lopa bekerja keras untuk memberantas korupsi. Ia bersama staf ahlinya Dr Andi Hamzah dan Prof Dr Achmad Ali serta staf lainnya, bekerja hingga pukul 23.00 setiap hari.

Penghormatan terakhir
Jenazah Lopa disemayamkan di Kejaksaan Agung untuk menerima penghormatan terakhir. Soeparman yang mengenal Lopa sejak lama, menilai seniornya sebagai seorang yang konsisten dalam penegakan hukum, sangat antikorupsi, sederhana, dan selalu berusaha agar orang-orang yang berada di sekitarnya bersih.

Meski menjabat Jaksa Agung hanya 1,5 bulan, Lopa berhasil menggerakkan Kejaksaan Agung untuk menuntaskan perkara-perkara korupsi. Karena itu jajaran kejaksaan merasa sangat kehilangan.

Ajudan Lopa, Enang Supriyadi Samsi kaget ketika mendengar kabar kepergian Lopa, karena ia tahu Lopa jarang sakit, apalagi sakit jantung. Kalaupun dirawat di rumah sakit lantaran kelelahan, soalnya ia pekerja keras.

Kalimat kunci dari Lopa yang tidak pernah dilupakan Enang, ?kendatipun kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan.?

Soeparman dipanggil Presiden 
Gus Dur ke Istana Negara, Senin, menunjuknya sebagai pelaksana tugas Jaksa Agung. Tidak ada arahan khusus dari Presiden. ?Laksanakan tugas, lanjutkan apa yang sudah dan akan dilakukan Pak Lopa?. Hanya itu pesan 
Gus Dur. Soeparman adalah Doktor Ilmu Hukum Pidana Perpajakan, UI.

Saat itu Lopa masih dirawat, belum meninggal dunia. Dengan demikian Keppres penunjukan Soeparman mengundang tanda tanya publik. Memang Wakil Jaksa Agung otomatis mengambil alih tugas-tugas atasannya bilamana yang bersangkutan berhalangan.

Keppres serupa pernah dikeluarkan 
Pak Harto ketika mengangkat 
Singgih sebagai pelaksana tugas-tugas Jaksa Agung Sukarton yang meninggal dunia.

Warisan Lopa
Kepergian Lopa sangat mengejutkan, meninggal ketika ia menjadi tumpuan harapan rakyat yang menuntut dan mendambakan keadilan. Sejak menjabat Jaksa Agung (hanya 1,5 bulan), Lopa mencatat deretan panjang konglomerat dan pejabat yang diduga
terlibat KKN, untuk diseret ke pengadilan.

Ketika menjabat 
Menteri Kehakiman dan HAM, ia menjebloskan raja hutan Bob Hasan ke Nusakambangan. Ktegasan dan keberaniannya jadi momok bagi para koruptor kakap.

Menurut Andi Hamzah, sebelum bertolak ke Arab Saudi, Lopa masih meninggalkan beberapa tugas berat. Kepergian Lopa untuk selamanya, memang membawa dampak serius bagi kelanjutan penanganan kasus-kasus korupsi.

Banyak perkara yang sedang digarap tidak jelas lagi ujung pangkalnya. Banyak masih dalam tahap pengumpulan bukti, sudah ada yang selesai surat dakwaan atau sudah siap dikirim ke pengadilan. Banyak perkara yang tertahan di lapis kedua dan ketiga.

Akbar sendiri, meski termasuk tokoh politik yang diburu Lopa, mendukung langkah penegakan hukum yang diprakarsai Lopa. ?Kita merasa kehilangan atasas kepergian Lopa.?

Pengacara yang membela banyak kasus korupsi, Mohammad Assegaf, menyayangkan Lopa melangkah pada waktu yang salah.
He?s the right man in the wrong time. Karena itu ia kehilangan peluang untuk melakukan pembenahan.

Pengamat hukum JE Sahetapy menginginkan kelanjutan pengungkapan kasus-kasus korupsi, meski Lopa sudah tiada. Kata Sahetapy, the show must go on.

Lopa sendiri sudah punya firasat, tugasnya selaku Jaksa Agung takkan lama. Banyak orang mengaitkannya dengan masa jabatan Gus Dur yang singkat. Tetapi masa bhakti Lopa jauh lebih singkat.

Ia sudah merasa bahwa langkah yang dimulainya akan memberatkan penerusnya.

Anak Dusun
Barlop, demikian pendekar hukum itu biasa dipanggil, lahir di rumah panggung berukuran kurang lebih 9 x 11 meter, di Dusun Pambusuang, 
Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935. Rumah itu sampai sekarang masih kelihatan sederhana untuk ukuran keluarga seorang mantan 
Menteri Kehakiman dan HAM dan Jaksa Agung. Ibunda pria perokok berat ini bernama Samarinah. Di rumah yang sama juga lahir seorang bekas menteri, Basri Hasanuddin. Lopa dan Basri punya hubungan darah sepupu satu.

Keluarga dekatnya, H. Islam Andada, menggambarkan Lopa sebagai pendekar yang berani menanggung risiko, sekali melangkah pantang mundur. Ia akan mewujudkan apa yang sudah diucapkannya. Memang ada kecemasan dari pihak keluarga atas keselamatan jiwa Lopa begitu ia duduk di kursi Jaksa Agung. Ia patuh pada hukum, bukan pada politik.

Lopa menerima anugerah Government Watch Award (Gowa Award) atas pengabdiannya memberantas korupsi di Indonesia selama hidupnya. Simboliasi penganugeragan penghargaan itu ditandai dengan Deklarasi Hari Anti Korupsi yang diambil dari hari lahir Lopa pada 27 Agustus.

Lopa terpilih sebagai tokoh anti korupsi karena telah bekerja dan berjuang untuk melawan ketidakadilan dengan memberantas korupsi di Indonesia tanpa putus asa selama lebih dari 20 tahun. Almarhum Lopa, katanya, adalah sosok abdi negara, pegawai negeri yang bersih, jujur, bekerja tanpa pamrih, dan tidak korup.

Menurut Ketua Gowa Farid Faqih, korupsi di Indonesia telah menyebabkan kebodohan dan kemiskinan bagi seluruh rakyat, tidak mungkin diatasi jika pihaknya, lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, militer, dan pimpinan parpol tetap melakukan korupsi. Karena itu perlu dimulai hidup baru melalui gerakan moral dan kebudayaan untuk memberantas korupsi.

Istri Lopa, Indrawulan, telah memberi contoh kesederhanaan istri seorang pejabat. Watak keras dan tegas suaminya tidak dibuat-buat. Karena itu, ia berusaha sedapat mengikuti irama kehidupan suaminya, mendukungnya dan mendoakan bagi ketegaran Lopa.

Lopa telah tiada. Memang rakyat meratapi kepergiannya. Tetapi kepergian Lopa merupakan blessing in disguise bagi para koruptor dan penguasa yang enggan menindak kejahatan korupsi.

***

Dalam usia 25, 
Baharuddin Lopa, sudah menjadi bupati di Majene, 
Sulawesi Selatan. Ia, ketika itu, gigih menentang Andi Selle, Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena melakukan penyelundupan.

Lopa pernah menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, 
Aceh, Kalimantan Barat, dan mengepalai Pusdiklat Kejaksaan Agung di Jakarta. Sejak 1982, Lopa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi
Sulawesi Selatan. Pada tahun yang sama, ayah tujuh anak itu meraih gelar doktor hukum laut dari Universitas 
Diponegoro, Semarang, dengan disertasi Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan yang Digali dari Bumi Indonesia.

Begitu diangkat sebagai Kajati Sulawesi Selatan, Lopa membuat pengumuman di surat kabar: ia meminta masyarakat atau siapa pun, tidak memberi sogokan kepada anak buahnya. Segera pula ia menggebrak korupsi di bidang reboisasi, yang nilainya Rp 7 milyar.

Keberhasilannya itu membuat pola yang diterapkannya dijadikan model operasi para jaksa di seluruh Indonesia.Dengan keberaniannya, Lopa kemudian menyeret seorang 
pengusaha besar, Tony Gozal alias Go Tiong Kien ke pengadilan dengan tuduhan memanipulasi dana reboisasi Rp 2 milyar. Padahal, sebelumnya, Tony dikenal sebagai orang yang ''kebal hukum'' karena hubungannya yang erat dengan petinggi. Bagi Lopa tak seorang pun yang kebal hukum.

Lopa menjadi heran ketika Majelis Hakim yang diketuai J. Serang, Ketua Pengadilan Negeri Ujungpandang, membebaskan Tony dari segala tuntutan. Tetapi diam-diam guru besar Fakultas Hukum Unhas itu mengusut latar belakang vonis bebas Tony. Hasilnya, ia menemukan petunjuk bahwa vonis itu lahir berkat dana yang mengalir dari sebuah perusahaan Tony.

Sebelum persoalan itu tuntas, Januari 1986, Lopa dimtasi menjadi Staf Ahli Menteri Kehakiman Bidang Perundang-undangan di Jakarta. J. Serang juga dimutasi ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/846-teladan-jaksa-pendekar-hukum

Fotografer Mandar Dewasa Ini (1)

Setahu saya, masyarakat umum terdidik (baca: yang pernah menempuh pendidikan sampai universitas) Tinambung yang memiliki minat terhadap fotografi (bukan sebagai pekerjaan, tapi sebagai hobby) era 90-an hanya ada dua, yaitu Asmadi Alimuddin dan Syariat Tadjuddin. Parameternya, mereka punya kamera SLR dan biasa melakukan hunting(pemotretan) bukan karena pesanan (untuk membedakan dengan fotografer yang hanya memotret acara-acara pernikahan atau acara lain).
Asmadi Alimuddin atau Asmadi Taro orang Tinambung yang kuliah di ISI Yogyakarta. Jurusannya teater, tapi ada minat ke fotografi. Beberapa kali hunting foto di beberapa tempat di Mandar.
Adapun Syariat Tadjuddin, (dulu) seorang wartawan (sekarang PNS di Pemkab Majene). Pernah menuntut ilmu hukum di Universitas Andalas Padang dan menjadi wartawan di Kalimantan Timur dan Makassar. Jadi bisa diartikan, basis Syariat adalah dokumentasi jurnalis, beda dengan Asmadi yang tidak pernah bekerja di media, misalnya sebagai fotografer lepas (stringer).
Belakangan, setelah bekerja sebagai PNS di Palu (untuk kemudian di Mamuju) dan mempunyai kesibukan lain, Asmadi sepertinya tidak melanjutkan hoby fotografinya. Beda dengan Syariat, masih berlanjut sampai sekarang. Dengan istilah lain, Syariat, yang juga mantan ketua Teater Flamboyan, lanjut ke fotografi digital, sedang Asmadi tidak. Pada tahun 1997 Syariat menggunakan SLR Yashica,  tahun 2000 SLR Canon, dan DSLR Nikon D5000 Februari 2010.
Pengguna DSLR lainnya di Tinambung adalah Studio Rusman (usaha almarhum H. Safar yang sekarang dikelola anak-anaknya), Wahyudi (tinggal di Tangnga-tangnga, sekarang menuntut ilmu fotogarfi di Yogyakarta) dan DJ Abi Qiffary (sekarang menuntut ilmu di Makassar). Ketiganya menggunakan EOS 1000D (Studio Rusman juga menggunakan Nikon D3000).
Yudhi membeli kameranya pada Mei 2009 dengan harga Rp 5,8 juta. Nanti pada tahun 2010 bertambah pengguna DSLR di Tinambung. Selain M. Syariat Tadjuddin yang saya tuliskan sebelumnya, juga Abu Madyan. Mereka menggunakan Nikon D5000. Menurut Abu Madyan, dia membeli kameranya pada Mei 2010 dengan harga Rp 6,3 juta.
Sedang fotografer Tinambung yang masih menggunakan SLR analog dalam arti sepenuhnya (tak memiliki digital) antara lain adalah Sabri, Husain (putra Ga’de sekarang tinggal di Pambusuang), dan beberapa fotografer yang “ber-asosiasi” ke beberapa “orang bencong” yang menyediakan jasa penyewaan perlengkapan pesta pernikahan dan make up-nya.
Sabri
Sabri tinggal di Tinggas-tinggas, antara mesjid Tinggas-tinggas dan kantor PLN Tinambung. Dulunya berguru atau bekerja di Studio Pammase milik Ismail (Suma’ila). Sejak tahun 1998, telah memiliki kamera sendiri, yakni Nikon FM10.
Walau Sabri dikenal sebagai fotografer pesta pernikahan, sebagaimana kebanyakan fotografer “profesional” di Tinambung, dia sedikit banyak berbeda dengan kolega-nya. Sabri memiliki sedikit rasa hobi atau kecintaan terhadap fotografi. Menggunakan istilah “sedikit” untuk membedakan tingkat kecintaan terhadap dunia fotografi yang dimiliki oleh H. Djawahir, H. Murad, dan Muluk Yasil.
Artinya, karya-karya Sabri sebagian besar masih berdasar pada pesanan. Untuk mengambil gambar dalam rangka kepuasan dan sebagai dokumentasi sejarah, belum.
 Saat ini Sabri menggunakan dua jenis kamera, selain Nikon, juga Braun. Menurutnya, lensa Nikkor (milik Nikon) bisa dipasang ke kamera Braun.
Dia mempunyai cita-cita bisa belajar fotografi secara akademis. “Kalau ada kursus fotografi di Makassar yang diselanggarakan Darwis Triadi, saya mau ikut”, ungkapnya.
Menariknya, Sabri masih menyimpan foto (tapi sudah repro) saat dia bayi yang tukang fotonya Toke Ballang. Meski tidak tahu banyak tentang Toke Ballang, Sabri tahu bahwa fotografer yang dulu terkenal adalah Toke Ballang.
Desa-desa di sekitar Tinambung juga ada beberapa fotografer bangkotan. Yang masih berkarya sampai saat ini adalah Karim (Desa Pambusuang) dan Kandallang (Desa Paropo). Saya sudah pernah melihat aksi Karim dan telah mewawancarainya, sedang Kandallang belum.


Karim, tukang becak merangkap fotografer di Pambusuang
Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin
Yang menarik di Karim, selain sebagai fotografer, dia juga merangkap sebagai nelayan (dulu) dan tukang becak (sekarang, sampai saat ini). Bagi saya, ini sesuatu yang unik. Jarang ada seorang fotografer yang kerjanya rangkap sebagai tukang becak. Tanpa bermaksud merendahkan pekerjaan tukang becak, kerja fotografer identik dengan pekerjaan elit, sedang tukang becak pekerjaan kasar.
Umur Karim saat ini 50 tahun, lahir di Dusun Ba’balembang, Desa Pambusuang. Hanya sekolah sampai kelas 3 SD. Tidak tamat. Alasannya, sering diganggu anak-anak tentara 710 dan kerja di laut bisa dapat uang banyak.
Setelah beberapa tahun melaut, Karim diajak sebagai pegawai di studio milik Tanwi, di Pasar Pambusuang. Tanwi termasuk fotografer awal di Mandar, khususnya di Pambusuang. Sebelum tinggal di Pambusuang, Tanwi tinggal di Ujung Lero, Pinrang (tak jauh dari kota Pare-pare). Kemungkinan besar, Tanwi pernah atau mendapat pengaruh dari orang Cina yang bekerja sebagai tukang foto di Pare-pare.
Menurut Karim, bosnya menggunakan kamera merk Sanghai “yang membungkus saat menggunakannya”. Dia juga bisa bekerja di kamar gelap. Saat Tanwi pindah ke Kotabaru (P. Laut, Kalimantan Selatan) yang membawa serta kamera kunonya, Karim bekerja sendiri. Nama studionya “Mekar”. Dia menggunakan Nikon. Merknya sudah aus tanda kameranya sudah tua.
Dulu, tahun 70-80an, Karim bekerjasama dengan studio milik H. Murad dan paman saya, Muluk Yasil. Baik untuk beli negatif, servis, maupun cuci cetak.
Menurut Karim, saat ini permintaan memotret sangat kurang. “Saya ini hanya dapat sisa-sisa pesanan. Kalau yang lain sudah penuh, baru saya dapat”, menurutnya. Sebab itulah, sehingga dia merangkap sebagai tukang becak. Begitu cintanya pada kegiatan fotografi, becaknya diberi nama “Konica 1” dan “Konica 2”.
Sekarang Karim tinggal sendiri. Isterinya telah meninggal dunia, tak ada anak. Rumahnya sederhana tapi menarik. Di dinding depan, yang dicat warna khas Argentina, dipasangi poster-poster peserta Piala Dunia 2010. Di atas pintu masuk, terdapat plank “Poto Studi Mekar M. Karim Pbs”.
Suasana dalam rumah masih ada jejak-jejak bahwa ruangan rumahnya juga adalah studio. Ada beberapa lukisan yang biasa dijadikan latarbelakang saat ada yang dipotret dan lemari kaca, tempat yang dulunya diletakkan rol, bingkai yang dijual. Ada juga foto dirinya bersama artis-artis lokal Mandar.

Karim bersiap beraksi
Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin
Karim bekerja sama dengan Husain, putra Pammarica (Ga’de) yang tinggal tak jauh dari rumah Karim. Husain umurnya masih muda, hampir seumuran dengan saya, awal kepala tiga (30 tahun). Kameranya ada dua, yaitu Nikon dan Zenit 122, tapi Zenit rusak. Beda dengan Zenit analog saya (Zenit TTL), 122 terbuat dari plastik, jadi ringan.
Bila ada order Husain yang bersamaan dalam satu hari, dia serahkan ke Karim sebagian. Demikian juga untuk urusan beli rol dan cetak hasil. Bila Karim butuh rol film, dia ambil dari Husain, nanti bayarnya; kalau ada yang mau dicetak, negatifnya diserahkan ke Husain. Husain yang urus dengan studio percetakan. (Bersambung)

*Sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com/2011/10/fotografer-tinambung-dewasa-ini-1.html?view=timeslide

Mengapa Pakai Q, Bukan ‘?

Susah membaca judul? Maksudnya, Mengapa pakai huruf “q”, bukan koma atas?
Mengapa beruq-beruq, bukan beru’-beru’ dan mengapa sandeq, bukan sande’?
Kalimat pertama di atas paling sering diajukan, yang kedua malah jarang. Padahal sama-sama menggunakan “q”, bukan “ ‘ “ (koma atas atau hamzah atau glottal stop atau simbol asotrof).
Kadang saya juga merasa janggal bila membaca kata bahasa Mandar yang menggunakan huruf “q” sebagai pengganti simbol koma atas. Apalagi kalau orang luar yang baca, pasti ganjil kedengaran. Sebab “q” dimaknai sebagai sebuah huruf, bukan sebagai sebuah bunyi yang khas yang disebut “glottal stop” atau hentian glotis. Glotis ialah istilah teknikal untuk jurang antara lipatan vokal yang dirapatkan ketika menghasilkan bunyi ini.
Sebab sering ada yang bertanya (kadang bernada protes), maka dalam tulisan ini saya menjelaskan sedikit tentang alasan penggunaannya.




Dalam Kamus Bahasa Mandar Indonesia yang disusun Abdul Muthalib, semua kata atau entri yang ada nada hentian glotis menggunakan huruf “q” sebagai pengganti simbol hamzah atau koma atas. Sebagaimana yang dituliskan di halaman Petunjuk Pemakaian, “Tata bunyi bahasa Mandar mengenal 24 fonem, yaitu: 17 fonem konsonan /b p d t c k q* j g s h m n n l r/ 2 fonem semi konsonan /w y/, dan 5 fonem vokal /i e a u o/ …”
Huruf “q” di atas diberi tanda * yang dijelaskan kemudian “* bunyi hamzah (“glotal stop”) sebagai fonem yang dapat menduduki posisi tengah dan belakang”.
Apakah Abdul Muthalib (dan ahli-ahli bahasa lain) suka-sukanya menggunakan aturan itu? Tidak. Mereka melakukan musyawarah untuk kemudian disepakati; mereka melakukan Loka Karya Pembakuan Ejaan Latin Bahasa-bahasa Daerah di Sulawesi Selatan pada 25 – 27 Agustus 1975 di Ujungpandang, merupakan tindak lanjut akan hasil Seminar Pembakuan Ejaan Latin Bahasa-bahasa Daerah di Sulawesi Selatan, 28 – 29 Maret 1975 di Aula Benteng Ujungpandang.
Sebab, setahu saya, belum ada seminar yang bertujuan untuk memperbaharui (mengganti kesepakatan), maka (dengan alasan ilmiah) saya berpedoman pada aturan seminar dan loka karya tersebut (menggunakan huruf “q” sebagai pengganti koma atas atau apostrof atau “glotal stop”).
Saya belum tahu persis apa alasan para ahli tersebut lebih memilih menggunakan “q” dibanding koma atas. Hingga kemudian saya membaca tulisan Sirtjo Koolhof atas keluh kesah teman-teman di Penerbit Ininnawa akan dilema penggunaan simbol “glottal stop”. Berikut kutipan tanggapan Sirtjo Koolhof, ahli La Galigo dari Belanda, atas tulisan Tiga Tanda Menguak Takdir Pembacaan Bahasa (Bugis):
Pertama-tama kita harus membedakan bunyi fonem yang ada dalam bahasa Bugis, yaitu glottal stop pada akhir suku kata, dan huruf yang melambangkan salah satu fonem. Pada dasarnya setiap lambang atau huruf bisa digunakan untuk salah satu fonem, asal dapat dibedakan dari fonem yang lain.
Lalu, mengapa dalam edisi La Galigo kami gunakan huruf q untuk melambangkan fonem glottal stop dalam transkripsi bahasa Bugis, dan bukan huruf k atau ‘? Ada alasan teoretis, dan ada yang praktis.
Huruf ‘k’ tidak dipilih karena kalau ada tambahan dengan suffiks (akhiran kata), kadang-kadang ‘muncul’ huruf ‘s’, ‘r’, atau ‘k’. Misalnya: baluq – balureng, balukeng; leppeq – leppesseng; lappaq – lappareng; dst. Karena itu, huruf k kurang cocok untuk melambangkan fonem glottal stop, karena selain ‘k’, ada juga ‘s’ dan ‘r’ yang ‘di bawah’ fonem glottal stop itu.
Sisa pilihan antara apostrof ( ‘ ) dan huruf ( q ). Tanda apostrof dalam tulisan bahasa Bugis dengan huruf Latin juga dipakai sebagai tanda petik. Berarti bisa memunculkan ambiguitas dan keanehan. Seperti: ‘malebbi”, atau ambiguitas ‘Taro a’ ménré’ ri sao kuta pareppa’é’: di mana kutipan berakhir?
Selain menghindari ambiguitas dan keanehan dalam ejaan ada alasan praktis juga untuk memilih huruf ‘q’ sebagai lambang fonem glottal stop. Alasan itu berhubungan dengan zaman komputer: dalam konvensi digital lambang apostrof tidak dihitung sebagai huruf, berarti tidak menjadi bagian dari kata. Misalnya nama Patoto’e dijadikan dua kata: Patoto dan e; sama halnya dengan kata pareppa’e dalam kutipan di atas.
Sisa satu huruf yang paling cocok untuk melambangkan fonem glottal stop dalam bahasa Bugis, yaitu huruf q:
1)    Dalam beberapa bahasa memang digunakan untuk melambangkan glottal stop;
2)    Karena tidak dipakai dalam bahasa Bugis yang ditulis dengan huruf Latin untuk fonem yang lain (tidak ada ambiguitas);
3)    Dapat melambangkan fonem ‘di bawah’ (s, r dan k); dan
4)   Secara praktis dalam file digital q diperlakukan sebagai huruf-huruf yang lain, berarti jadi bagian integral kata-kata.
Apa yang dikemukakan Koolhof sangat masuk akal. Saya tambahkan contoh, bila menuliskan istilah lokal ke dalam sebuah tulisan berbahasa Indonesia, idealnya istilah tersebut dibedakan dengan kata lain (yang berbahasa Indonesia). Ada beberapa teknik, tapi yang disepakati ialah kata atau kalimat tersebut dibuat miring (italic) atau diberi kutipan. Kalau miring tak ada masalah, tapi kalau tanda kutip?
- Bahasa Mandar mencuri adalah maccoroq
- Bahasa Mandar mencuri adalah “maccoro’”
Apa beda dua kalimat di atas? Pada kalimat kedua, “glottal stop”-nya tak terlihat atau tersamar, sebab didekatnya ada tanda kutip.
Juga ada yang berdalih, katanya, kalau pakai “q” akan membuat orang salah baca. Menurut saya ini hanya masalah kebiasaan atau bisa juga ketidakpahaman. Saya katakan demikian, sebab ternyata ada banyak kasus atau contoh di bahasa Indonesia, simbol “glottal stop” itu menggunakan huruf, baik “q” maupun huruf “k”, BUKAN “ ‘ “ (koma atas).
Contoh: ucapan ko’ ditulis koq; tida’ menjadi tidak; so’ ditulis sok, bengko’ ditulis bengkok; bebe’ ditulis bebek, henta’ menjadi hentak, dan lain-lain.
Artinya, sebenarnya kita telah mempraktekkan mengganti koma atas dengan huruf saat menuliskannya. Hanya tidak disadari. Baru tersadar ketika kata tersebut (baca: bahasa daerah) dituliskan.
Tapi tak berarti saya menyalahkan bagi yang bertahan menggunakan simbol koma atas. Yang penting adalah bersikap konsisten. Misalnya ketika menggunakan beru’-beru’, maka yang lain pun harus pakai koma atas. Seperti sandeq menjadi sande’, lipaq saqbe menjadi lipa’ sa’be. Kalau mau lebih konsisten, yang bahasa Indonesia pun demikian, jangan cuma bahasa daerah dong.
Kesimpulannya, membaca tulisan Mandar yang mana pada kata tersebut ada huruf “q” di tengah atau di akhir, itu adalah pengganti simbol “glottal stop” atau hamzah.
Contoh:
Maqita (melihat) diucapkan ma’ita BUKAN maQita
Maquduq (mencium bau) diucapkan ma’udu’  BUKAN maQuduQ
Maqgalung (bersawah) diucapkan ma’galung
Maqelong (menyanyi) diucapkan ma’elong BUKAN maQelong
Maqbaluq (menjual) diucapkan ma’balu’

*sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com/2014/12/mengapa-pakai-q-bukan.html

Ridwan Alimuddin: Mendokumentasikan Maritim Mandar


Muhammad Ridwan Alimuddin

MUHAMMAD RIDWAN ALIMUDDIN
Lahir: Tinambung, Polman, Sulawesi Barat, 23 Desember 1978
Istri: Hadijah Nurun (32)
Anak: Muhammad Nabigh Panritasagara
Pendidikan:
- SD Negeri 002 Tinambung, 1988
- MTsN Tinambung, 1991
- SMU Negeri Tinambung, 1994
- Jurusan Kelautan dan Perikanan Universitas Gadjah Mada, 1997-2001
Karya tulis:
- Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut, 2004
- Orang Mandar Orang Laut, 2005
- Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara, 2009
- Mandar Nol Kilometer, 2011
Penelitian:
- Riset Teknologi Roppo Mandar di Selat Makassar, 2001
- Riset Perahu Sandeq, 2002-2003
- Destructive Fishing di Segitiga Emas Nusantara dalam International 
  Proceeding Workshop on The Culture Ecological Dyinamic in Wallacea and 
  Establishing, 2004
- Pembicara pada Simposium Internasional Kebaharian di Universitas Kyoto,   Jepang, 2006
Dia tampil memaparkan konsep hukum dan pranata sosial nelayan Mandar, Sulawesi, pada simposium di Universitas Kyoto, Jepang, tahun 2006. Kini ia siap-siap mendampingi 12 nelayan Mandar mengikuti Festival Perahu layar Dunia di Brest, Perancis, Juli nanti.
OLEH ASWIN RIZAL HARAHAP DAN NASRULLAH NARA
Itu hanya salah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan Muhammad Ridwan Alimuddin dalam mendokumentasikan budaya maritim Mandar. Empat buku tentang Mandar ditulisnya dalam 5-6 tahun terakhir.     Dari segi jumlah, mungkin karyanya belum seberapa. Namun, karya intelektual Ridwan menjadi berbeda karena diperkaya dengan film dokumenter dan fotografi. Pantas jika ia menjadi rujukan bagi pemerhati kemaritiman Mandar, termasuk kalangan media dan akademisi mancanegara.     Mandar adalah salah satu suku yang mendiami jazirah barat Pulau Sulawesi. Suku yang "kental" dengan laut ini tersebar di pesisir Sulawesi Barat, mencakup Kabupaten Polewali Mandar, Majene, Mamuju, dan Mamuju Utara.     Suku yang berpopulasi sekitar 1 juta jiwa ini hidup berdampingan dengan tiga suku lainnya di provinsi tetangga, Sulawesi Selatan, yakni Bugis, MAkassar, dan Toraja. Sebagian orang Mandar juga berdiam di Ujunglero, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.     Inisiatif meneliti budya Mandar berangkat dari keprihatinan Ridwan akan minimnya kepustakaan tentang budaya Mandar. Saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, dia sempat kesulitan mencari referensi untuk membuat skripsi.     "Waktu itu, satu-satunya buku yang saya temukan di beberapa perpustakaan di Yogyakarta adalah Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan Sulawesi Selatan karya (almarhum) Baharuddin Lopa," kata Ridwan saat ditemui di rumahnya di Desa Pambusuang, Polewali Mandar, sulawesi Barat, dua pekan silam.     Jika Lopa lebih mengedepankan teori hukum kemaritiman, Ridwan terdorong mendalami peranti teknis nelayan Mandar. Agar fokus pada proses penelitian, tahun 2001, di tengah kuliah yang telah dijalani empat tahun, ia cuti kuliah empat semester.     Ia memulai penelitian di kampung halamannya, komunitas nelayan Pambusuang, Balanipa, dan Tangnga-tangnga, Tinambung. Ia turut  melaut bersama nelayan demi mendalami teknik penangkapan ikan dengan rumpon, tempat berkumpulnya ikan untuk berbiak yang sengaja dipasang nelayan di laut. Bahannya dirakit dari pelepah daun kelapa, ijuk dan sejenisnya, serta barang-barang bekas.
Mendalami "sandeq"
     Ridwan, putra pasangan Alimuddin dan Rahma Yasli, juga mendalami teknik penangkapan ikan dengan pukat cincin di Selat Makassar. Ia merasakan sensasi luar biasa saat ikut berburu ikan tuna dengan sandeq, perahu layar bercadik khas Mandar, yang dapat melaju hingga 40 kilometer per jam meski hanya digerakkan tenaga angin. Pengetahuan navigasi ia serap dari nelayan yang mengandalkan intuisi dan bintang di langit.     Ridwan tertarik meneliti lebih jauh seluk-beluk perahu sandeq. Ia lantas berkenalan dengan Horst Liebner, peneliti maritim Nusantara asal Jerman yang menggagas festival Sandeq Race sejak tahun 1995.     "Saya banyak berguru pada Horst, orang Eropa yang amat peduli pada kearifan lokal Mandar," kata anak kelima dari tujuh bersaudara itu.     Sandeq Race adalah ajang balap sandeq dengan rute Mauju-Makassar. Peserta berlayar sejauh 300 mil laut (sekitar 540 kilometer) selama 10 hari.     semakin hari, ia kian larut dan menikmati penelitiannya di laut. Ridwan lalu menetapkan hati untuk menjadi peneliti dan penulis agar kebudayaan Mandar mendunia.     Setahun kemudian, buku pertama Ridwan, Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? , diterbitkan penerbit Ombak, yogyakarta. Buku ini berisi hasil penelitiannya tentang penggunaan bom ikan di Selat Makassar, laut Jawa, dan Laut Banda yang disebutnya sebagai segitiga emas bahari Nusantara. Buku ini ia lengkapi film dokumenter Racun dan Bom Ikan, bekerja sama dengan Studio UMI Jepang.     Lewat bukunya yang lain, Orang Mandar Orang Laut, ia kembali mengisahkan kemampuan orang Mandar beradaptasi dengan zaman. Buku setebal 143 halaman itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2005.     Berkat ketekunannya, Ridwan pun diundang menjadi pembicara dalam simposium internasional di Universitas Kyoto, Jepang pada 2006. Dalam forum yang diikuti perwakilan lebih dari 20 negara itu, ia memaparkan hukum pranata sosial dalam teknik penangkapan ikan  rumpon di kalangan nelayan Mandar.     Sepulang dari Jepang, Ridwan kian intens membantu Horst dalam menyelenggarakan Sandeq Race yang rutin digelar setiap tahun. Animo nelayan dalam ajang balapan perahu layar itu cukup besar. Dari semula diikuti 20 perahu, tahun 2011 ajang balapan ini menyedot lebih dari 50 peserta.     Tahun 2008, Ridwan membantu stasiun televisi Jepang, NHK, membuat film dokumenter tentang perburuan telur ikan terbang. Telur ikan terbang merupakan komoditas ekspor selain ikan tuna.     Setahun berselang, buku ketiga Ridwan, Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara, dikeluarkan penerbit Ombak bekerja sama dengan Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar serta Yayasan Ad Daras Matakali. Buku ini mengulas rinci bentuk dan filosofi sandeq.     Ridwan lalu melengkapi informasi tentang kebudayaan Mandar dengan buku Mandar Nol Kilometer yang terbit tahun 2011. Buku setebal lebih dari 300 halaman itu berisi kumpulan esai yang menjelaskan serba-serbi kehidupan orang Mandar pada masa lalu sampai kini.     Ketertarikan Ridwan pada kebaharian Mandar tak lepas dari pengalaman masa kecil hingga dewasanya. Meskipun sang ayah bekerja sebagai pandai emas, Ridwan hidup di perkampungan nelayan Mandar di Tinambung. Istrinya, hadijah, juga tinggal di kampung nelayan Pambusuang.     Kini Ridwan tengah merampungkan buku Bingkai Sejarah Kabupaten Polewali Mandar: Alam, Budaya, Manusia, sertaEnsiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Mandar.      Ridwan adalah satu di antara sedikit tokoh muda yang mau peduli pada budaya Mandar.                                                                         (M FINAL DAENG)


*Sumber : http://sutarko.blogspot.com/2012/02/ridwan-alimuddin-mendokumentasikan.html